fajar yang meninggi tertinggal dalam lelap yang berterusan hingga mencapai titik bosan untuk menggelontor dalam dekapan kain putih hitam. Toengaoe bergerak menuju kedinginan yang terendam dalam aliran lambat yang meluncur tersendat-sendat. Beberapa lembar berkabut yang begitu lama dibiarkan menggelinding dalam kesejukan hingga berubah menjadi untaian yang semerbak dan merinding ketika panas menggelegar menusuk ke sel-sel yang jarang namun rapat tersebut. Duk….duk….duk….., takbir berkumandang memanggil siapa saja yang mau mendengarkannya. Toengaoe yang baru saja menyadari keheningan yang berubah menjadi ketenangan yang mendalam tersebut mengangkat tapak demi tapak untuk mendekati. Tanpa terasa ketika ufuk hendak meneriaki ultra yang terus menembus jaringannya, toengaoe menerobos menuju ke arah hilir yang sebenarnya ketinggian yang berada di pangkal lonjakan kawan yang berada di pulaunya. Serangkaian gelombang terbang yang putih bercampur kehitam-hitaman ikut menyertainya dan akhirnya menyelimuti tubuhnya yang kecil dan dekil hingga gemeretak tulang yang bercampur sedikit nikotin mengombang-ambing raungannya. Tetap saja begitu ketika dia menikam jejak yang hampir tersapu rautan mengkilat diatas hamparan hitam yang bergaris-garis putih tersebut. Berbagai macam sahutan pun berteriak mengikuti irama keroncongan yang harus disambut dengan butiran putih untuk meredakan suasana. Tidak ada duka, yang ada tawa walaupun berbagai macam pesawat tempur berusaha menyergap perjalanannya dalam petir yang membahana, belum lagi beberapa untaian kilat menyindir toengaoe yang semakin compang-camping. Banyak hal yang patut dia perhatikan untuk menertawai ulahnya yang ternyata dinikmatinya oleh kecanduan untuk menapaki hidup yang terbolak-balik bersama kawan yang habis umurnya dalam hiking.

q090313t