From INCL Edisi 12-12b, 30 Maret 2009:

Hutan Desa di Bungo akan Diresmikan

Sumber: Antara, 28 Maret 2009
Jambi

Menteri Kehutanan MS Kaban menurut rencana, Senin (30/3), akan meresmikan Program Hutan Desa pertama di Indonesia yang berlokasi di Desa Lubuk Beringin, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.

Direktur Eksekutif Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi Rakhmat Hidayat di Jambi, Sabtu, menjelaskan, Hutan Desa Lubuk Beringin berada di kawasan hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur seluas 2.356 hektare (ha).

Hutan Desa tersebut akan menjadi proyek percontohan yang akan dikembangkan di sejumlah daerah, terutama yang memiliki kawasan hutan dengan tujuan untuk menjaga keutuhan dan melestarikan hutan.

Oleh karena itu, katanya, peresmian itu selain akan dihadiri Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin juga akan dihadiri Gubernur Bali I Made Mangku Pastika dan Gubernur Sulawesi Selatan serta sejumlah bupati dari Bengkulu.

KKI Warsi merupakan salah satu LSM pendamping/fasilitator dalam program pembentukan Hutan Desa Lubuk Beringin yang telah ditetapkan melalui SK Menhut Nomor: SK.109/Menhut-II/2009. Program hutan desa menekankan pada aspek pengelolaan oleh warga desa, mereka boleh memanfaatkan kayu yang ada dengan sistem tebang pilih dan melakukan penanaman di kawasan hutan desa.

Dalam program hutan desa itu, pengelolaannya ditangani oleh lembaga atau kelompok yang dibentuk berdasarkan peraturan desa yang bertanggungjawab langsung kepada kepala desa, dan setiap tindakan dalam mengelola hutan harus dimusyawarahkan. Hutan Desa merupakan hutan negara yang pengelolaannya dilakukan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, terutama kawasan hutan lindung yang belum dibebani hak.

Rakhmat menjelaskan kondisi hutan di Desa Lubuk Beringin relatif masih utuh dan kalaupun terjadi perambahan itu terjadi beberapa tahun lalu, warga menanaminya dengan pohon karet. Ia juga menjelaskan, program hutan desa juga bisa dilaksanakan karena terkait dengan budaya masyarakat desa setempat yang sejak dulu mempunyai tradisi dan adat istiadat yang kuat untuk menjaga hutan.

“Hutan sudah dianggap sebagai rumah mereka, kalau hutan rusak, kehidupan mereka akan sulit. Kesadaran itu sudah tertanam cukup kuat,” tambahnya. (*)