Hari itu diakhir bulan April 2009, Toengaoe bersama beberapa orang kawan melakukan perjalanan lintas provinsi. Perjalanan ini mengemban misi untuk berbagi pengalaman dengan sekelompok orang yang berada di Provinsi Tetangga.
Berawal dari dalam kota yang mulai gelap gulita, Toengaoe beranjak setapak demi setapak menuju perkampungan yang semakin gelap gulita. Lebih kurang lima jam perjalanan telah berlalu, secarik sinar terang menembus mata Toengaoe. Sekelompok orang berdiri diatas bukit menghadap ke Toengaoe. Teriakan “hati-hati” disorakkan dalam cahaya yang mulai terang benderang tersebut. Orang-orang yang meneriaki Toengaoe dan beberapa orang lainnya tersebut saat ini sedang memperbaiki jalur perjalanan yang runtuh akibat pembangunan sebuah bangunan yang diharapkan di masa mendatang menjadi trademark bagi daerah tersebut. Secara bertahap, Toengaoe mulai bergerak ke sisi bangunan yang diapit tebing terjal dan jurang yang dalam.
Selepas melewati bangunan tersebut, ternyata sudah banyak kelompok orang yang menuju arah yang sama dengan Toengaoe. Mereka berkumpul di dalam kelompoknya sendiri dan bercerita tentang perjalanannya yang semakin seru dan mengasyikkan walaupun kegelapan menyelimuti mata mereka. Ketika mata mereka bertemu dengan Toengaoe, tidak satupun yang dikenali oleh Toengaoe. Maklum saja, Toengaoe yang selama ini berputar-putar dalam rimba belantaranya sendiri jarang sekali menikmati perjalanan yang sedemikian jauhnya. Terakhir melakukan perjalanan jauh, seingat Toengaoe adalah pada awal tahun kemaren dan itu tidaklah arah yang sama dengan yang ditempuhnya saat ini. Jalur ini sudah dilewatinya lebih kurang lima tahun yang lalu untuk memastikan keberadaan sahabat-sahabatnya yang dihantam galodo karena proses persiapan pembangunan tersebut. Dengan kesedihan waktu itu ia berharap dalam beberapa tahun bangunan ini bisa selesai dan sahabat-sahabatnya bisa menikmati hidup kembali tanpa gangguan termasuk para kolektor yang seenaknya membawa mereka entah dalam keadaan sehat atau dalam keadaaan sakit.
Ketika mendekati daerah perbatasan, Toengaoe yang semakin penat menikmati kegelapan dikejutkan oleh banyak mata yang beriringan dalam jumlah yang cukup besar. Salah satu mata yang dilihatnya termasuk juga sepasang mata yang dimilikinya. Ketika dia mencoba menghitung secara berurutan, rombongan yang ternyata konvoi dari koloni Panther tersebut berjumlah lebih kurang 25 sampai 30 Panther.
Setahu Toengaoe, Panther bukanlah berkelompok dalam melakukan aktivitas hariannya, melainkan beraktivitas sendiri-sendiri. Namun saat ini, Toengaoe menjadi tertarik dengan adanya koloni Panther yang berjalan beriringan dan teratur seperti memiliki komando yang punya wibawa yang tinggi. Ketika melalui kelompok-kelompok lain yang beriringan maupun dengan yang berlawanan arah dengannya, Panther-Panther tersebut seperti menyapa mereka dengan akrab, bukan menjadikannya sebagai mangsa.
Perbatasan yang dilalui Toengaoe dan juga Panther-Panther tersebut berada di Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan dua provinsi di tengah-tengah Pulau Sumatera. Semakin tinggi hari menuju kegelapan, Panther-Panther tersebut semakin mempercepat jalannya. Toengaoe pun mengikuti irama perjalanan yang dilakukan koloni Panther tersebut. Ketika Toengaoe berada di atas sebuah bukit yang memperlihatkan topografi daerah yang dilaluinya, Toengaoe kembali mendapat kesempatan untuk memastikan jumlah anggota koloni dari Panther tersebut. Sinar sepasang mata Panther yang terang benderang menjadi pertanda bagi Toengaoe untuk menentukan jumlah. Perjalanan pun menjadi sedikit terang karena cahaya yang dipaparkan oleh mata koloni Panther.
Toengaoe yang semakin penat dan sudah terlihat letih mulai mengusap matanya ketika tiba-tiba kantuk mulai menerjang pelupuk matanya. Tanpa ayal Toengaoe terhenyak begitu saja. Dia tidak sadarkan diri dalam perjalanannya yang panjang dan semakin mendekati tujuannya. Toengaoe tidak tahu lagi kemana koloni Panther yang dinikmatinya melintas begitu saja di Lintas Sumatera. Toengaoe juga tidak tahu dimana keberadaannya saat itu.
Ketika mendekati terbitnya bintang timur, Toengaoe tersadar dari ketidaksadarannya yang tidak berisi mimpi. Toengaoe terkesiap ketika salah satu dari Panther yang berkoloni beberapa waktu sebelumnya memapah Toengaoe dan bergerak ke arah tujuannya. Toengaoe melihat berkeliling dan mendapati kawan-kawannya juga berada di sekelilingnya sambil mengusap-usap mata mereka. Ternyata koloni Panther yang dinikmatinya dalam perjalanan yang melelahkan tersebut adalah barisan mobil travel bermerk Panther dari Kota Padang menuju Kota Pekanbaru. (©Qt®)