Perjalanan bagi seseorang memang mengasyikkan dan seseorang lainnya malah menyangkal dan merasa tidak pernah menikmatinya karena seperti membuang waktu. Berbeda sekali dengan bayangan Toengaoe tentang perjalanan, dimana dia merasa perjalanan memang membuang waktu yang harus dinikmati dan mengasyikkan bagi hari-harinya. Apalagi perjalanan tersebut dapat menjadi pengalaman yang tidak terbang dan menguap begitu saja.

Terbang….. dalam fikiran Toengaoe sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Apalagi dalam rimba belantara dan semak belukar. Kali ini, Toengaoe dapat kesempatan mengikuti sebuah parade terbang yang tidak harus mengeluarkan biaya. Terbang dari pohon ke pohon seperti tupai terbang. Gratis……

Dalam teriknya mentari di atas kepala dan menggelegaknya rawa gambut yang selalu menyimpan bara, seulas angin sepoi-sepoi telah menjadi harapan bagi setiap kepala di Bukit Naang. Hal itu juga menjadi harapan terbesar bagi Toengaoe. Walaupun berada di pinggir sebuah Hutan (Ulayat) Adat yang tidak terlalu luas, Bukit Naang tetap saja mampu mengucurkan literan keringat dengan rawa gambut sebagai pondasinya.

Seluas 80 ha kawasan Bukit Naang yang dulunya semak belukar berawa gambut telah dipoles sedemikian rupa menjadi sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi dalam sebuah perjalanan. Walaupun polesannya hingga saat Toengaoe berada di sana belum sesuai dengan bayangan Founder-nya karena memang masih dalam proses pemolesan, Toengaoe pun menjadi salah satu yang dapat menikmati perjalanan tersebut.
Ketika semua orang mencoba untuk mencari lokasi weekend yang ideal dimana bermain sambil menikmati views dan bermain air yang jernih menjadi suatu impian, Toengaoe mendapat kesempatan untuk menikmatinya ketika semua orang bermain dengan rutinitas kerja hariannya. Waterboom yang hampir mendekati polesan akhir dan mampu menurunkan teriknya timbal balik dari rawa gambut menuju cakrawala, rerumputan yang telah menjadi penutup rawa gambut tersebut, dan serangkaian ayunan yang dapat menghibur adrenalin untuk berucap. Semuanya bercampur baur menjadi sebuah kenikmatan yang tidak puas kalau tidak menikmatinya. Saat ini baru ayunan dengan kawat besi baja yang dirancang oleh seorang French dengan safety yang standar Pegunungan Alpin.


Treetop demikian tertulis untuk menyebut ayunan tersebut. Ada konsep flying-fox di dalamnya dan juga ada konsep moving on forest cover yang menjadi ikon di tempat dimana Toengaoe sedang kewalahan menahan luncuran tetes demi tetes keringat. Sebagai sentral dari ayunan tersebut adalah rumah pohon yang berdiri lebih kurang 10 meter di atas tanah pada pohon Koompassia excelsa. Yah, kira-kira menghabiskan waktu 1.5 jam, seluruh ayunan yang ada sudah dapat dinikmati.
Kenikmatan yang dirasakan Toengaoe dengan mainan barunya tersebut buyar seketika sewaktu panggilan untuk melanjutkan perjalanan mengiang di telinganya. Supaya ada ajakan untuk main mainan baru tersebut, Toengaoe pun beranjak meninggalkan ayunan tersebut dan mulai berangsur-angsur membunuh hiburan yang suatu saat nanti akan ia coba untuk menikmatinya. (©Qt®)