Sebagian dari kita ketika mendengar kata Rafflesia langsung akan membayangkan bunga yang berukuran besar, berbau busuk dan berwarna merah menyala. Malahan sebagian masyarakat terutama yang berkegiatan di dalam hutan mempunyai keyakinan kalau bunga ini dapat memakan apa saja yang masuk ke dalam (melewati aperture-red) bunga ini, sehingga bunga ini ditakuti dan sering disebut Bunga Bangkai. Namun sebagian lain malah menjadikannya sebagai objek untuk menambah pendapatan ekonomi mereka dengan mengumumkannya ke khalayak ramai untuk mengundang para pelancong menikmati keindahan dan keajaiban bunga ini.
Sumatera Barat memiliki kawasan hutan alam dengan topografi berbukit-bukit dan menjadi hulu dari banyak DAS di Pulau Sumatera terutama DAS Agam-Kuantan dan DAS Batang Hari yang mengalir ke arah timur. Daerah ini diketahui memiliki 3 spesies Rafflesia,, yaitu Rafflesia arnoldii R. Brown, R. gadutensis W. Meijer dan R. hasseltii Suringar. Salah satu dari spesies tersebut merupakan spesies endemik Pulau Sumatera yaitu Rafflesia gadutensis W. Meijer. Sebagaimana diketahui selama ini, habitatRafflesia adalah di dalam hutan yang kondisinya masih bagus. Kondisi hutan Sumatera Barat yang relati masih bagus telah menjadi salah satu habitat yang penting bagi keberadaan Rafflesia di Pulau Sumatra.
Rafflesia MONITORING TEAM (RMT) Padang merupakan kumpulan orang yang terdiri dari peneliti dan mahasiswa yang dalam beberapa waktu belakangan ini sedang melakukan kajian yang intensif terhadap Rafflesia dan distribusinya di Sumatera Barat. Kajian ini mendapat dukungan dana dari Rufford Small Grants dan dari beberapa peneliti yang peduli dengan pelestarian Rafflesia. Dari hasil studi yang dilakukan sejak awal tahun 2009 hingga saat ini, diketahui adanya bunga Rafflesia yang mekar setiap bulan terutama Rafflesia arnoldii. Sementara itu R. gadutensis diketahui mekar hanya pada dua bulan pertama dalam tahun ini saja. Sedangkan R. hasseltii juga diketahui mekar pada bulan pertama dalam tahun ini.

Mekarnya bunga Rafflesia ini, di beberapa tempat sempat menjadi tontonan yang menarik bagi banyak kalangan untuk menyaksikan keindahan bunga ini. Sementara itu dari beberapa habitat bunga yang mekar sebelumnya, saat ini malah ada yang tidak tumbuh lagi individu-individu (knop-red) baru. Dari temuan sementara yang didapatkan oleh RMT Padang memperlihatkan jenis kelamin bunga yang mekar, kelebihan kunjungan manusia, degradasi dan konversi kawasan hutan terutama habitat Rafflesia dapat menjadi beberapa faktor yang mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya bunga ini selain faktor makro iklim yang tren saat ini sebagai Perubahan Iklim Global.
Temuan adanya bunga Rafflesia yang mekar setiap bulan ini terutama R. arnoldii sebagai bunga yang terbesar di dunia telah menjadikan temuan yang menarik bagi keterlibatan Rafflesia sebagai salah satu spesies dalam usaha-usaha pelestarian alam. Dalam berbagai upaya pelestarian alam, Rafflesia sering dijadikan sebagai salah satu ikon baik untuk menentukan kawasan yang patut dikonservasi ataupun sebagai salah satu spesies yang menjadi target prioritas dalam konservasi spesies dan biodiversitas. Hal tersebut telah menjadikan Rafflesia sebagai salah satu spesies yang patut diperhatikan dalam usaha penyelamatan bumi dari kehancuran. (Qt)

Catatan:
Press Release ini dibuat dalam memperingati Hari Biodiversity Internasional tahun 2009