Mai, bulan yang penuh dengan adventurial yang pantas untuk diabadikan menjadi sebuah kisah yang tak berguna. Baru saja bulan syamsiah ini menempati harinya, Toengaoe telah beranjak menuju ke habitatnya. Kali ini bersama Venoes, dia menapaki barisan putih yang tertera diatas hitam yang kadang licin kadang bergelombang dan malah kadang berlobang. Prima yang tak mau ketinggalan mencoba menampaki tahap demi tahap. Baru sekitar setengah jam berlalu, Prima sudah terantuk-antuk dan mulai meraung menyusuri batu-batu gunung dan tembok yang membentang dihadapannya. Offroad, begitu Prima bergumam. Penuh canda Prima yang membawa Toengaoe dan Venoes mempermainkan setiap undakan yang membuat Toengaoe dan Venoes berteriak dalam sebuah tantangan.

Perjalanan yang seru tersebut ternyata belum berakhir ketika sebuah hamparan air garam menghadang mereka. Toengaoe melirik QQ yang terus berdetak tertatih-tatih. It’s time to show, begitu Toengaoe memberi isyarat pada Venoes. Lagi-lagi dengan senyuman Prima yang bergerak menghajar rintangan yang belum dia mengerti. Kembali undakan yang lebih parah separah tebing panjat para climber harus dihadapinya untuk memuaskan sobat-sobatnya yang baru saja merasakan nikmatnya tantangan. Toengaoe berusaha mengarahkan Prima yang sudah semakin terseok-seok dengan putaran yang hampir tidak stabil.

Jalur lintas barat yang baru saja setahun diolah menjadi sebuah harapan baru tersebut, telah menjadikan keasyikkan tersendiri bagi Toengaoe dan sobat-sobatnya. Padahal tidak ada bayangan yang akan membawa mereka menikmati jalur tersebut. Hanya sebuah keingintahuan terhadap target dalam sebuah XPDC yang akan membawa lebih banyak sobat mereka.

Ketika melewati beberapa pulau yang berada di sisi kanan mereka, Toengaoe tersenyum tanpa dia tahu maknanya. Hanya senyuman yang selanjutnya kembali raungan Prima yang terdengar sekeras deburan air garam yang menghempas seenaknya. Raungan lembut Prima telah membuyarkan bayangan Toengaoe ketika kemulusan yang disentuh Prima menatap mereka. Ini baru-baru JJS, begitu Venoes meneriaki Toengaoe. Ups, kembali batu cadas menghadang mereka. Prima kembali tersenyum lebar ketika Toengaoe mengarahkannya menuju sebuah cadas yang tergores akibat kebakaran.

Tidak terlalu lama menapaki cadas yang mulai rapuh tersebut, tanah kuning akibat konversi lahan menertawakan mereka dalam kesunyian yang dipecah oleh raungan Prima. Lagi-lagi Toengaoe tersenyum lebar dengan mata yang menyipit. Tidak jauh lagi, akan ada hamparan keindahan yang patut dinikmati, begitu Toengaoe bersorak didekat Venoes. Gambaran mereka pun akhirnya dapat mereka pajangkan dalam sebuah bingkai 5×7 sentimeter. Hanya gambaran dengan views yang seharusnya dapat dinikmati oleh para tourist yang sibuk dengan rutinitas hariannya yang monoton.

Sebuah darmaga yang penuh dengan bagan, menghadang mereka dan meminta mereka untuk menikmatinya. Hanya sesaat, kembali Prima bersorak menuju basecamp. Menarik untuk diulang, begitu Toengaoe mengutuki dirinya. (©Qt®)

see photographs in Adventura