Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor –
RAFFLESIA BERBEDA DENGAN BUNGA BANGKAI
Sabtu, 5 Juni 2010

Masih banyak orang yang mengira bunga Rafflesia adalah Bunga Bangkai. Padahal, kata peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sofie Mursidawati, MSc, bunga Rafflesia berbeda dengan bunga bangkai.

“Bunga Rafflesia berbeda dengan Bunga Bangkai, mereka berbeda jenis hanya sama-sama memiliki gelar yang sama karena sama-sama berbau bangkai dan berukuran raksasa,” ujar Sofie, di Kebun Raya Bogor, Jumat.

Sofie menjelaskan, berbeda dengan bunga pada umumnya, bunga dikenal karena keindahannya dan baunya yang wangi. Tetapi, keluarga bunga bangkai tidak seperti kebanyakan bunga lainnya.

Rafflesia dan Bunga Bangkai memiliki keunikan yakni sama-sama langka, berukuran raksasa tapi berbeda nama, bentuk maupun warna.

Bunga Rafflesia atau dalam Bahasa Latin dikenal sebagai Rafflesia Arnoldi (Padma Raksasa) untuk endemik Sumatra ini termasuk dalam suku Rafflesiaceae (padma).

Sebagai parasit, Rafflesia hidup menempel pada akar atau batang tumbuhan inangnya.

“Inangnyalah yang memberikan ia makan, minum dan tempat berbiak,” kata Sofie.

Rafflesia tidak memiliki batang dan daun, karena tidak memerlukannya. Dia berkembang biak dengan biji yang dihasilkan oleh bunga betina.

Bunga jantan dan bunga betina tidak terdapat dalam satu tumbuhan, terkadang malah tumbuh berjauhan, sehingga dibutuhkan serangga untuk menyembunyikan bunga betina dengan serbuk sari dari jantannya.

Bau menyengat yang dikeluarkannya digunakan untuk mengundang serangga agar membantu proses penyerbukan.

Dalam masa pertumbuhannya, Rafflesia membutuhkan waktu 21 bulan untuk tumbuh, mulai dari munculnya kuncup sampai mekar.

“Ironisnya, biarpun membutuhkan waktu lama untuk berbunga, rafflesia hanya mekar selama lima hari,” kata wanita yang sudah meneliti rafflesia sejak 2004 ini.

Biji rafflesia berjumlah ribuan berukuran sangat kecil dan halus seperti pasir dan hanya bisa dilihat dengan bantuan mikroskop.

Sementara itu, untuk Bunga Bangkai (Amorphophallus Titanium) merupakan tanaman endemik Sumatera. Masuk dalam suku Araceae (talas-talasan).

“Kalau Rafflesia jenis parasit, bunga bangkai masuk jenis talas atau keladi,” kata Sofie.

Bunga Bangkai merupakan tumbuhan yang menyuplai makanannya sendiri dari umbinya. Tumbuhan ini mempunyai umbi, batang dan daun.

Bunga banakai berkembang biak dengan biji, umbi dan daunnya. Bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tumbuhan, tetapi bunga betinanya matang lebih dahulu daripada bunga jantannya sehingga bunga jantan tidak dapat menyerbuki bunga betina.

“Artinya, diperlukan lebih dari satu bunga supaya bunga betinanya dapat diserbuki oleh bunga jantannya dengan bantuan serangga,” katanya.

Pemberian nama bunga bangkai karena bunga ini juga mengeluarkan bau menyengat seperti bau bangkai, yang digunakan untuk menggundang serangga agar membantu dalam proses penyerbukan.

Berbeda dengan Rafflesia yang membutuhkan waktu 21 bulan untuk tumbuh dan mekar, Bunga Bangkai membutuhkan waktu satu hingga tiga bulan mulai dari munculnya kuncup sampai mekar.

“Kalau Rafflesia dapat bertahan sampai lima hari, Bunga Bangkai mekar sempurna hanya membutuhkan satu hari saja, tapi masih bisa bertahan sempai tujuh hari sebelum terkulai layu,” katanya.

Untuk biji Bunga Bangkai berjumlah ratusan dengan ukuran 2-4 cm, berwarna merah bila telah matang.

Jadi, Rafflesia membutuhkan inang supaya bisa hidup di suatu tempat. Inang yang dibutuhkan adalah inang yang tahan diparasiti dan tidak mudah stres, cuaca yang bersahabat, jumlah populasi bunga jantan dan betina yang banyak, punya kesempatan untuk diserbuki agar menghasilkan buah atau biji dan aman dari gangguan binatang pemangsa.

Sementara Amorphophallus memerlukan tempat tumbuh yang sesuai dengannya yaitu di hutan dan pinggiran hutan yang tidak terlalu ternaungi dan dekat dengan sumber air, jumlah polulasi yang banyak sehingga dapat menghasilkan biji dan burung rongkong yang membantu penyerbukan biji-bijinya.

“Belajar dari pola hidup dua tanaman ini, kenapa mereka hidup langka, kita jadi tau, jika kita ikut merusak habitatnya maka tanaman ini akan sulit ditemukan,” ucapnya.

Rafflesia Patma yang mekar di Kebun Raya Bogor merupakan salah satu dari 15 jenis rafflesia yang ada di Indonesia.

Rafflesia Patma merupakan endemik Jawa Barat, sementara yang acap tumbuh di kawasan Sumatra adalah jenis Rafflesia Arnoldi.

Pada tahun 1929 bunga Rafflesia pernah mekar di Kebun Raya Bogor untuk pertama kalinya dengan jenis tidak diketahui berita aslinya apakah jenis Patma, Arnoldi atau Rachusenii.

“Dalam literatur berita, tidak disebutkan pasti jenis apa yang pernah mekar pada tahun itu, tapi kutipan berita pada zaman itu menyebutkan ketiga jenis Rafflesia itu pernah mekar di Kebun Raya Bogor pada tahun yang sama,” kata Sofie.

Setelah 81 tahun berlalu, Rafflesia kembali mekar di Kebun Raya Bogor, bertepatan dengan hari Jadi Kota Bogor ke-528.

Mekarnya rafflesia ini setelah melalui penelitian intensif sejak 2004 yang dilakukan oleh empat tim peneliti LIPI.

Mereka adalah Sofie Mursidawati, Melani Kurnireswati, Ngatari dan Ata. Sofie yang sebenarnya peneliti anggrek mengaku tertarik untuk mencoba meneliti Rafflesia. Bermodalkan kepercayaan dan keyakinan, ia dan rekan-rekan melakukan ekspedisi ke Pangandaran, asal Rafflesia Patma.

Mereka mencari tumbuhan Tetrastigma yang merupakan inang yang biasa ditumbuhi rafflesia. Melalui penelitian dan pengamatan yang cukup pajang, akhirnya sampailah Tetrastigma (anggur-angguran) di Kebun Raya Bogor pada tahun 2004.

Dan setelah sekian lama, akhirnya keyakinan Sofie dan rekan-rekan bahwa akan tumbuh Rafflesia di dalam tumbuh Tetrastigma terbukti.

Ada 10 cikal bakal bunga Rafflesia yang tumbuh seperti bongkahan bunga kol, satu di antaranya sudah mekar sempurna pada hari Kamis (3/6) sekitar pukul 03.30 WIB.

“Yang tiga sudah mati, sisanya ada enam bongkahan lagi yang masih kita amati perkembangannya,” kata Sofi.

Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Bogor-LIPI, Mustaid Siregar, menyebutkan, mekarnya bunga Rafflesia sebagai kado Hari Jadi Bogor.

Mustaid mengatakan prospek untuk memelihara Rafflesia dalam kondisi budidaya masih sangat sukar dilakukan, dan karena itu keunikan tumbuhan tersebut tidak bisa dinikmati banyak orang. Untuk melihatnya orang harus mencari langsung ke habitatnya.

“Ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, melalui penelitian yang intensif selama bertahun-tahun, Rafflesia dapat mekar di luar habitatnya,” kata Mustaid.

Menurut Mustaid, penelitian terhadap rafflesia sudah dilakukan sejak 1857, di mana para peneliti zaman Belanda berusaha untuk membuat rafflesia hidup di luar habitatnya.

Namun, banyak aspek biologisnya yang masih menjadi misteri sehingga kelangkaan masih melekat pada tumbuhan ini.

Dengan tumbuhnya Rafflesia di Kebun Raya Bogor setelah 81 tahun berlalu merupakan keberhasilan yang perlu diapresiasikan, karena merupakan buah ketekunan peneliti Kebun Raya Bogor selama bertahun-tahun mencoba-coba.

“Semoga hasil ketekunan ini dapat diterapkan bagi berjenis-jenis Rafflesia lain di Indonesia seperti Rafflesia Arnoldi yang keberadaanya makin tergusur oleh peradaban manusia. Selain itu kehadirannya dapat menambah wawasan kepada masyarakat tentang kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia,” tuturnya.

Sofie menambahkan, rencannya ke depan hasil dari penelitian ini akan dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah botani tingkat Internasional yaitu Association for Tropical Biology and Conservation (ATBC) di Bali pada bulan Juli, dan Flora Malesiana Symposium di Singapura bulan Agustus 2010.

Sofie mengatakan, keberhasilan ini dapat menumbuhkan optimisme para peneliti LIPI terutama Kebun Raya Bogor untuk terus berusaha dan berkarya serta meraih dukungan berupa “research funding” dari berbagai pihak yang memiliki komitmen kuat untuk turut menyelamatkan kekayaan hayati dunia khususnya Indonesia.

Sofie menyebutkan, di belahan dunia lain, Malaysia turut melakukan usaha serupa, namun keberhasilannya memperbanyak tumbuhan masih diragukan karena usaha tersebut dilakukan di dekat habitatnya sehingga keberhasilannya masih dipertanyakan banyak orang.

Sementara itu, ujar Sofie, bagi Kebun Raya walaupun bukan yang pertama kalinya, namun berbagai hasil kajian telah dipaparkan oleh banyak peneliti menyatakan bahwa agak mustahil untuk menumbuhkan Rafflesia di luar habitatnya.

Pernyataan bahwa “tidak mungkin Rafflesia ditumbuhkan di luar habitatnya” memang ada benarnya.

Setelah keberhasilan ini tantangan ke depan malah semakin berat, akankah Rafflesia menjadi penghuni tetap yang keberadaannya bisa dinikmati oleh pengunjung dari waktu ke waktu? “Karena, mempertahankan keberadaannya jauh lebih sulit,” kata Sofie.

Antara, 4 Jun 2010

sumber : LIPI website