Tahun 2011, 40 Harimau Sumatera Mati

Sumber : Jurnas.com, 17 Januari 2012
Oleh : Tria Dianti

Sepanjang tahun 2011, sekitar 40 harimau Sumatera mati. Padahal spesies harimau tersebut di Indonesia tinggal 400 ekor saja. Hal tersebut dinyatakan oleh Dirjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PHKA) Darori saat Lokakarya Penggalangan Sumber Daya untuk Pelaksanaan Rencana Nasional Pemulihan Harimau Sumatera di Jakarta, Selasa (17/1).

Ia mengatakan, harimau sumatera ini kebanyakan mati karena konflik, baik dengan masyarakat maupun dengan pemburu liar yang menjual kulitnya di luar negeri dengan harga mahal. “40 ekor yang mati sepanjang tahun akibat konflik. Kemudian di Bengkulu kemarin ada 4 harimau yang diselamatkan dari perangkap harimau. Kalau tidak dicegah dari sekarang bisa punah harimau kita,” katanya. Harimau (Panthera tigris) memiliki sembilan subspesies di dunia, namun tiga spesies di antaranya sudah punah. Dua subspesies yang sudah punah di Indonesia yakni Harimau Jawa dan Harimau Bali.

Menurut Country Director Wildlife Conservation Society, Noviar Andayani, satu subspesies yang punah lainnya adalah Harimau Kaspia. Kemudian satu subspesies lain yakni Harimau China Selatan (Panthera tigris amoyensis) juga “punah secara fungsional” karena karena kehilangan habitat dan buruan. “Lima spesies lainnya bisa segera punah jika tak ada perhatian lebih lanjut atas habitat mereka. Saat ini tersisa hanya 3.200 harimau di dunia,” katanya.

Ia mengatakan, kepunahan mereka dipicu perdagangan ilegal atas tubuh harimau yang dipercaya sebagai obat-obatan. Kemudian harimau juga dihadapkan dengan masalah ekspansi lahan pertanian, perkebunan dan penebangan hutan. “Tanpa respons segera untuk menyelamatkan harimau, harimau liar akan punah pada 2022,” katanya.

Catatan: Diterbitkan juga dalam INCL Edisi 15-04b tanggal 24 Januari 2012