KESEMPATAN KEDUA, SIAMANG DI PULAU MARAK
Habitatnya bisa ditemui di kawasan Sumatera dan semenanjung Malaysia.

Jum’at, 25 Mei 2012, 16:19 WIB
Elin Yunita Kristanti, Eri Naldi (Padang)

VIVAnews – Populasi siamang atau Symphalangus syndactylus cenderung tak terdata secara spesifik. Meskipun tergolong hewan yang dilindungi dengan status terancam punah, keberadaan primata yang habitatnya bisa ditemui di kawasan Sumatera dan Semenanjung Malaysia tersebut, untuk saat ini tergolong sulit dijumpai.

Alih fungsi lahan dan penebangan hutan menjadi ancaman serius bagi hewan tersebut. Di Pulau Marak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, puluhan ekor siamang menjalani rehabilitasi. Sejak tahun 2003, primata ini mendapat kesempatan kedua di areal hutan Pulau Marak seluas 500 hektare, sebelum kembali dilepas ke habitatnya.

Mereka menjalani proses rehabilitasi bersama spesies sejenis, ungko. Ungko yang ukuran tubuhnya lebih kecil dan warna yang cenderung beragam, juga terancam punah. Alih fungsi lahan untuk perkebunan menjadi ancaman serius bagi populasi ungko.

Menurut data Kalaweit, penangkaran dan perburuan juga menjadi penyebab Siamang dan ungko masuk dalam status hewan yang dilindungi. “Penurunan populasi Siamang berbanding lurus dengan deforestasi yang diperkirakan mencapai 60 persen,” kata General Manager Kalaweit Asferi Ardiyanto pada VIVAnews.

Yang mengejutkan, hasil survei mencatat, peredaran Siamang di seluruh Indonesia diperkirakan mencapai 6.000 ekor. Hewan ini dikandangkan sebagai hewan peliharaan.

Di Pulau Marak, tercatat sekitar 55 ekor siamang—termasuk anak—dan 26 ekor ungko, menjalani proses rehabilitasi. Angka ini memang tidak sebanding dengan jumlah peredaran gibbon (kera kecil) yang berkedok penangkaran.

Menurut Asferi, survey populasi primata ini terbilang minim hingga saat ini. Rehabilitasi siamang dan ungko yang dilakukan Kalaweit di Pulau Marak menunjukkan keberadaan primata ini kian mengkhawatirkan.

Di Pulau Marak, hewan ini dilatih untuk kembali ke kondisi alaminya dan melepaskan diri bantuan mansia. Sebanyak 50 kandang berukuran 6 x 6 meter dan satu unit kandang sosialisasi membantu hewan-hewan ini untuk bisa pulih seperti di habitatnya.

“Ukuran kandang ini kita setting sesuai dengan tingkah laku mereka yang 90 persen berada di atas pohon,” ujarnya.

16 Spesies

Di Sumatera, sedikitnya tercatat 16 primata yang menghuni kawasan hutan hingga hidup berdampingan dengan masyarakat. Dari 16 spesies tersebut, ancaman akan populasi primata ini terbilang berbeda.

Menurut Dosen Biologi Universitas Andalas Dr Rizaldi, ancaman terhadap primata ini muncul karena habitatnya yang terusik akibat alih fungsi lahan, illegal logging, dan laju perkebunan. “Saya tidak melihat perburuan menjadi faktor utama terancamnya populasi siamang dan ungko,” kata Dr. Rizaldi pada VIVAnews, Jumat, 25 Mei 2012.

Fakta menunjukkan, dari 16 spesies yang ada di Sumatera, empat spesies primata ini merupakan endemik asli Mentawai yang tidak bisa dijumpai di belahan dunia mana pun. Statusnya pun, menurut Rizal, saat ini terancam punah karena persoalan pembukaan lahan.

Hasil survei yang dilakukannya pada tahun 2003 hingga 2006 lalu menunjukkan, tingkat perburuan siamang terbilang insidentil. Ancaman yang mengkhawaitrkan bagi kelangsungan hewan ini justru akibat aksi illegal logging.

Siamang yang cenderung menghuni kawasan-kawasan hutan primer cenderung terlindungi dari jangkauan alih fungsi lahan untuk perkebunan. “Dari segi habitatnya, dari jenis gibbon, ungko yang lebih terancam karena habitatnya berada di kawasan dataran rendah,” ujarnya.

Pembukaan lahan yang memunculkan fragmentasi kawasan hutan menjadi ancaman serius untuk kelanjutan populasi ungko. Pembukaan lahan untuk perkebunan cenderung membuat populasi hewan ini terisolasi.

Siamang dan ungko merupakan primata yang memilih hidup dalam kelompok kecil dan cenderung melakukan monogamy. Mereka merupakan hewan yang menjaga penuh kawasan dan cenderung melindunginya dari kawanan maupun hewan lain.

Rizaldi berharap, konservasi siamang tidak bisa lepas dari upaya untuk menjaga habitat hewan tersebut. “Kondisi ini penting untuk menghindari konflik dengan manusia yang belakangan mulai terjadi di kawasan hutan di Jambi (orang utan dengan manusia),” ujar Rizal. (umi)

source: Vivanews