LAUT TINGGA, DANAU PEGUNUNGAN YANG MEMPESONA DAN HAMPIR TERLUPAKAN

Danau Laut Tingga
Danau Laut Tingga

Gunung-gunung didaki bukan untuk ditaklukkan
Rimba belantara ditelusuri juga bukan untuk ditaklukkan
Sungai-sungai pun diarungi tidak mungkin untuk ditaklukkan
Semuanya hanya untuk dinikmati dan dipelajari
(Ieth, 6.vii.2012)

Danau Laut Tingga, sebuah Danau yang terletak di bagian barat dari Gunung Malintang dan berada di perbatasan antara Sumatera Barat dengan Sumatera Utara. Danau ini berada pada ketinggian 1612 m diatas permukaan laut dengan topografi yang curam dan kekayaan keanekaragaman hayati kawasan hutan pegunungan yang belum terinformasikan. Sebagai bagian dari sebuah Gunung yang berada di jajaran tengah Bukit Barisan, kawasan Danau Laut Tingga ini hampir saja ‘tertinggalkan’ dari para pendaki gunung, para peneliti keanekaragaman hayati, para orang-orang yang menyebut dirinya ‘Pencinta Alam’ dan para Naturalist lainnya. Sehingga dengan alasan ‘Tingga’ tersebut, KCA-LH Rafflesia FMIPA Unand pun secara bertahap berinisiatif untuk melakukan Pengamatan di kawasan ini sebagai bagian dari Usaha Pembelajaran dari kawasan ini.

Catatan Pendakian Danau Laut Tingga yang Terkumpulkan

Sebagai sebuah Danau yang berada di kawasan Pegunungan dari Gunung Malintang (1983 m dpl), Gunung Bendera (1875 m dpl) dan Gunung ‘Tanpa Nama (1994 m dpl) yang jarang didaki oleh para Pendaki Gunung, berdasarkan catatan Penulis telah didapatkan beberapa informasi pendakian dari kawasan ini sebagai berikut pada :
1. 2 Agustus 2007 oleh kawan-kawan di Mapala Unand
2. Tahun 2009 oleh kawan-kawan Peneliti dari Jerman yang didokumentasikan oleh Perentie Production
3. 12 Februari 2009 oleh kawan-kawan di Mapala Unand
4. 22-24 April 2011 oleh Tim Pre-Assessment KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND
5. Tahun 2011 oleh Mapala Proklamator Univ. Bung Hatta
6. 12-19 April 2012 oleh AMR Angkatan 2011 KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND
7. 5 Juni 2012 oleh kawan-kawan Mapala PAITUA UNAND
8. Juli 2012 oleh kawan-kawan Mapala BLAISE PASCAL UPI Padang

Assessment Keanekaragaman Hayati KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND di Kawasan Danau Laut Tingga

KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND sebagai sebuah kelompok mahasiswa pencinta alam yang berkedudukan di Fakultas Sains secara latar belakang memiliki hubungan dengan kegiatan-kegiatan penelitian dan pelestarian Sumberdaya Alam dan Keanekaragaman Hayati. Sehingga sebuah Ekspedisi yang dilakukan, secara keseluruhan merupakan ekspedisi yang menghasilkan informasi dan data mengenai keanekaragaman hayati dan ekosistemnya bagi sebuah kawasan.

Adalah Peta Google Earth yang memperlihatkan kondisi tutupan pulau Sumatra yang pertama kali menampilkan dan memberi ide bagi Anggota KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND untuk melakukan Asesmen Keanekaragaman Hayati di Kawasan Danau Laut Tingga tersebut. Selanjutnya untuk melengkapi Informasi Awal mengenai lokasi asesmen, Video Perentie Production produksi tahun 2009 yang dirilis di Youtube juga menjadi inspirasi kedua bagi Ekspedisi Keanekaragaman Hayati di Danau Laut Tingga tersebut.

Tim Pre-Assesment Jalur Danau Laut Tingga

Tim Pre-Assessment
Tim Pre-Assessment

Atas dasar kedua inspirasi tersebut diatas, sebagai Asesmen Awalnya pada April 2011 yang lalu sebanyak 4 Orang Anggota KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND yang terdiri dari Hernawati (Raff 191/Anggota Kehormatan), Hendra Mustika (Raff 366 Hks/Anggota Biasa), Maybe dan Wady (Anggota Muda Rafflesia angkatan 2010) mencoba melakukan Pre-Assessment di kawasan Danau Laut Tingga tersebut. Kegiatan Pre-Assessment ini bertujuan hanya untuk mengetahui Jalur Pendakian terdekat dan Informasi Awal mengenai Bentang Alam serta Keanekaragaman Hayati di Kawasan ini.

Dalam Pre-Assessment ini, Tim hanya mencapai kaki Gunung bagian Timur dari kawasan ini hingga ketinggian 1000 m dpl. Di lokasi ini, Tim menemukan kolam Air Panas yang berbau belerang. Kolam Air Panas ini bagi masyarakat merupakan tempat untuk berobat berbagai penyakit kulit dengan cara merendamkan diri ke dalamnya. Secara bentang alam, kawasan ini merupakan kawasan Hutan Dataran Tinggi yang memiliki tutupan tajuk yang bagus. Kolam ini dapat ditempuh dari Kampung terakhir yang dilewati kendaraan roda empat yaitu Nagari Sitabu selama 1.5 hari jalan kaki.

Kolam Aia Angek Sosopan
Kolam Aia Angek, Potensi tersimpan di dalam rimba

Selama perjalanan dari Kampung terakhir kendaraan tersebut, dapat dinikmati ladang-ladang yang ditanami Padi Ladang dan Nilam (Pogostemon cablin). Ladang-ladang tersebut kadang-kadang berganti dengan Hutan Dataran Rendah yang cukup bagus secara tutupannya. Dalam perjalanan ke Kolam Air Panas tersebut, Tim juga melewati 2 Kampung dimana Kampung Pertama yaitu Simpang Lolo merupakan Kampung yang masih dihuni oleh Sekelompok Keluarga Besar. Kampung ini dahulunya merupakan kampung yang ramai penghuninya, namun ketika ‘Galodo’ menghantam Kampung ini, hampir semua penduduknya pindah dari Kampung tersebut. Tinggallah 2 Keluarga yang masih bertahan dan hidup serta menetap di Kampung ini. Kampung Kedua yaitu Aek Simariam merupakan Kampung Ladang yang ditinggalkan seiring dengan eksodusnya masyarakat dari Kampung Pertama ketika terjadinya ‘Galodo’.

Tim Assessment Keanekaragaman Hayati

Sejak kembalinya Tim Pre-Assessment dari perjalanannya yang mulai memberikan titik terang bagi starting point jalur pendakian ke Danau Laut Tingga, anggota KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND kembali mengancang-ancang untuk menurunkan Tim Assessmen. Kembali beberapa versi Lembaran Peta dihidangkan sebagai bahan diskusi di Sekretariat yang berada di komplek KTO Kebun Raya Unand termasuk juga peta yang disajikan oleh Google Earth juga ikutan dianalisis secara spatial untuk memperkirakan arah perjalanan Tim Assessmen dari starting point tersebut.

Seiring dengan dilantiknya Anggota Muda Rafflesia (AMR) angkatan 2011, berbagai persiapan pun dilakukan termasuk berbagai sesi diskusi mengenai metodologi dalam assessmen tersebut. Mulai dari persiapan fisik, pendanaan, perlengkapan lapangan dan peralatan assessmen secara bertahap dipersiapkan. Setahun setelah kembalinya Tim Pre-Assessment, atas dukungan dari Swadaya Anggota, PSLH Unand, Outdoor Boogie Lapai dan Outdoor Bivac Ulak Karang serta Dosen-Dosen dan Dekan FMIPA UNAND, Tim Assessmen yang merupakan AMR angkatan 2011 (Fajri, Vivi Martinsyah, Riki Chandra, Ada Chornelia) yang didampingi oleh Anggota Biasa (Hendra Mustika dan Heru Handika) pada tanggal 12-20 April 2012 melakukan kegiatan Assesmen Keanekaragaman Hayati di Jalur Pendakian ke Danau Laut Tingga di Kawasan Gunung Malintang tersebut.

Kegiatan Assessmen ini dinamai dengan Ekspedisi Ilmiah Danau Laut Tinggal Pasaman Barat dengan tujuan untuk melakukan Inventarisasi Nepenthes, Aves, Mamalia Besar serta Penentuan Kandungan Oksigen (O2) dan Karbondioksida (CO2) di Danau Laut Tinggal. Menjelang Ekspedisi ini, suasana di lingkungan Kampus FMIPA pun dihebohkan oleh persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Anggota. Bahkan Media Nasional yaitu Harian Kompas pun ikut menyemarakkan persiapan Ekspedisi ini dengan memuat beritanya pada Kompas.com pada ruang Nasional yang bertanggal 9 April 2012. Begitu juga ditingkat kawan-kawan Pencinta Alam di Unand yang tergabung ke dalam FORKOMPA-UA dan kawan-kawan Pencinta Alam di Kota Padang.

Setelah dilepas dari Lapangan Dekanat FMIPA UNAND, pada tanggal 12 April 2012 Tim pun berangkat menuju starting point yang sudah dipersiapkan oleh Tim Pre-Assessment setahun yang lalu. Dalam ekspedisi kali ini, salah seorang Anggota Biasa yaitu Hendra Mustika yang termasuk salah seorang Tim Pre-Assessment juga ikut untuk memandu Anggota Muda Rafflesia yang menjadi Tim Inti Ekspedisi ini sehingga dapat menyesuaikan perjalanan ekspedisi ini sesuai dengan ROP (Rencana Operasional Perjalanan) yang sudah disiapkan dari Sekretariat.

Amorphophallus gigas
Amorphophallus gigas, salah satu jenis Bunga Bangkai yang tumbuh di dataran tinggi

Selama Ekspedisi Ilmiah yang dilakukan ini, Tim Ekspedisi telah mendapatkan beberapa informasi penting mengenai keberadaan keanekaragaman hayati yang ada di kawasan ini. Beberapa spesies flora dan fauna penting secara ekologis telah terekam dalam catatan harian Tim Ekspedisi diantaranya Nepenthes gymnamphora, Amorphophallus gigas dan Rhizanthes infanticida untuk spesies Floranya; Tapirus indicus, Symphalangus syndactylus dan Helarctos malayanus untuk spesies Faunanya yang teramati dari jejak yang ditinggalkannya serta Buceros rhinoceros salah satu spesies burung. Untuk Tapirus indicus yang biasa disebut dengan Tapir atau Cipan, temuan jejaknya berada di 3 tempat dengan ketinggian berbeda.

Tapirus indicus
Jejak Tapirus indicus, salah satu spesies fauna yang dilindungi secara Nasional dan terdaftar dalam satu Redlist-IUCN bagi fauna terancam punah secara Global

Perjalanan Tim Ekspedisi ini dari Kampung yang dapat dicapai kendaraan bermotor terakhir hingga Danau Laut Tingga ditempuh selama 4 hari perjalanan riset sambil melakukan pengamatan Flora dan Fauna, dimana track yang dilalui menjadi transect pengamatan. Dari titik terakhir Tim Pre-Assessment, Tim Ekspedisi harus melalui track dengan tanjakan yang panjang dan memiliki waktu tempuh 1.5 hari untuk bisa sampai di pinggir Danau Laut Tingga. Jalur ini merupakan jalur Selatan yang mengarah langsung ke pinggir Danau Laut Tingga yang cukup landai dan dapat mendirikan Camp.

Selama berada di pinggir Danau, Tim Ekspedisi melakukan pengukuran kandungan O2 dan CO2 terlarut dari air Danau. Hasilnya, kandungan keduanya ternyata memiliki nilai yang normal dan tidak membahayakan untuk dikonsumsi. Walaupun demikian, aroma Sulfur tetap tercium di daerah sekitar Danau Laut Tingga.

Ekspedisi Ilmiah ini untuk saat ini telah menjadi informasi dan data awal bagi keberadaan Keanekaragaman Hayati di Danau Laut Tingga yang hampir saja tertinggalkan oleh Para Peneliti dan Pendaki Gunung. Ketika Tim Ekspedisi telah kembali ke Sekretariat, 2 media nasional pun yaitu Harian Kompas dan Harian Padang Ekspres pun mewawancarai anggota Tim Ekspedisi dan merilis berita mengenai hasil analisis awal dari Tim Ekspedisi ini di media mereka.

Berakhirnya Ekspedisi Ilmiah ini telah memberikan pembelajaran yang bagus bagi Anggota Muda Rafflesia (AMR) sebagai salah satu syarat bagi mereka untuk menjadi Anggota Biasa KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND. Secara berlembaga pun, KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND dalam setiap ekspedisi yang dilakukannya tetap mendorong setiap anggotanya untuk melakukan Ekspedisi Ilmiah, sehingga semua potensi biodiversity dan potensi bentang alam dari sebuah ekspedisi dapat diketahui secara baik. Sebagai sebuah Lembaga Internal Kampus, KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND pasti memiliki keterbatasan tersendiri dalam setiap kegiatannya, namun selalu berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari kegiatan yang dilakukan.

Seiring dengan suksesnya Ekspedisi Ilmiah ini dalam mengumpulkan informasi awal Keaneakaragaman Hayati di jalur pendakian Danau Laut Tingga kawasan Gunung Malintang, dalam bulan Juni 2012 (2 bulan) setelah Ekspedisi ini, Mapala PAITUA FT-Unand pun melakukan Ekspedisi Pendakian Jalur ke Danau Laut Tingga dengan didasari dari Jalur yang telah dilalui oleh Tim Ekspedisi Ilmiah AMR-11 KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND. Begitu juga pada awal bulan Juli 2012 ini, Mapala Blaise Pascal UPI Padang pun ikut melaksanakan Ekspedisi menuju Danau Laut Tingga yang hampir ditinggalkan tersebut.

Semoga kedepannya, kegiatan Kepecintaalaman di Danau Laut Tingga ini khususnya dapat memberikan pembelajaran bagi para peggiatnya bagaimana melakukan pelestarian alam dan mengelola sumber daya alam di kawasan Pegunungan. Dan tidak memberikan dampak negatif bagi ekosistem Danau Laut Tingga sebagaimana yang terjadi dengan Gunung-Gunung lainnya seperti Sampah yang berserakan dimana-mana, Areal Camp yang menebangi pepohonan dan perubahan kondisi Sosial Budaya masyarakat lokal. Untuk menekan dampak negatif tersebut, perlu dipertimbangkan berbagai kegiatan yang lebih konservatif yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan ekosistem Danau Laut Tingga ini terutama bagi kegiatan Alam Bebas. Pertimbangan tersebut khususnya Kesadaran bagi para Penggiat dalam:
– Penerapan Pembuangan Sampah Dibawa Kembali terutama Sampah Anorganik.
– Pembuatan areal Camp di setiap lokasi Camp.
– Mengurangi penggunaan bahan bakar berupa Kayu yang berasal dari Tumbuhan hidup yang akan berdampak kepada Penebangan berskala kecil.
– Penerapan Slogan Pencinta Alam: “Tidak meninggalkan sesuatu kecuali Jejak, Tidak membuang sesuatu kecuali Waktu, dan Tidak mengambil sesuatu kecuali foto”. (ach)

Semoga… dan Salam Lestari !!!

——————————————————
Dedicated to Kedhy Lavandino (AMR 001-11)
Written by Raff 327 Rgt and under supported by Raff 191, Raff 366 Hks, Raff 373 Tid, AMR 001-10, AMR 004-10, AMR 002-11, AMR 005-11, AMR 006-11, AMR 008-11
All photographs taken by KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND ©2011 and ©2012

———————————————————–
Source: Blog KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND

“Use Paperless to Save Our Remaining Forest”