Hutan Tersisa Penyangga TNKS
Jumat, 07 September 2012 11:04
Metro Jambi

Melihat ke Ruangan Bujang Raba
SAAT ini kawasan hutan tersisa di Jambi hanya bisa ditemukan dalam spot-spot tertentu. Alih fungsi hutan yang marak dilakukan dari dekade 1970-an hingga sekarang sudah mencabik-cabik hutan Jambi. Di antara kawasan hutan yang masih tersisa dan patut untuk dipertahankan adalah kawasan Ekosistem Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba).

Kawasan hutan di barat Kabupaten Bungo ini merupakan kawasan bentang alam dengan fungsi kawasan dan tipe hutan yang kompleks, sekaligus sebagai penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). “Kawasan ekosistem Bujang Raba ini, mencontohkan berbagai model pengelolaan hutan yang membentuk satu kesatuan kawasan dan berada di hulu DAS Bungo-Tebo. Dengan tipe hutannya meliputi hutan dataran rendah hingga hutan pegunungan bawah,”sebut Rudi Syaf Manager Komunikasi KKI Warsi.

Disebutkannya, pengelolaan Ekosistem Bujang Raba seluas 109 ribu hektare (ha) dilakukan secara terpisah-pisah dan tidak saling berkaitan berdasarkan fungsi masing-masing kawasan. Yaitu meliputi taman nasional, hutan desa, hutan adat, hutan tanaman industri, perkebunan dan kebun karet campur. “Padahal kawasan ini berada dalam satu kesatuan ekosistem sehingga perlu adanya pengelolaan yang saling mendukung untuk menyelamatkan kawasan hutan tersisa di Provinsi Jambi,”sebutnya.
Sehingga lanjut Rudi, Ekosistem Bujang Raba ini dapat dipertahankan keberadaannya sebagai kawasan hutan tersisa dalam berbagai model pengelolaan yang lestari dan berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat serta dapat mengurangi berbagai bencana ekologis yang berdampak dari hulu ke hilir.

Hal ini penting dilakukan mengingat saat ini ekosistem Bujang Raba masih terbagi ke dalam sejumlah fungsi, hutan lindung Bukit panjang Rantau Bayur seluas 13.529, 40 ha, yang dikukuhkan dengan SK Menhut No. 739/Menhut-II/2009 tanggal 19 Oktober 2009, kawasan ini dikelola oleh masyarakat lima desa sekitar dengan pola Hutan Desa. Kemudian di ekosistem Bujang raba ini, juga terdapat hutan produksi yang hak kelolanya dipegang oleh PT. Malaka Agro Perkasa melalui SK Menteri Kehutanan No. 570/Menhut-II/2009 dengan luas ± 24.485 Ha dan PT. Mugitriman Internasional melalui SK Menteri Kehutanan No. 419/Menhut-II/2009 dengan luas ± 37.500 Ha dalam bentuk Hutan Tanaman Industri (HTI).

Sementara itu, kawasan HP yang berbatasan langsung dengan TNKS yang berada di bagian barat, merupakan kawasan ex-HPH PT Rimba Karya Indah (RKI) yang menarik secara ekologis dan konservasi. Kawasan ini pernah direkomendasikan oleh Program ICDP-TNKS (2002) menjadi salah satu kawasan repatriasi (mengembalikan kawasan) TNKS dengan sebutan kawasan RKI finger. Di Bagian lainnya dalam ekosistem ini, Untuk wilayah APL-nya juga terdapat izin PT Sawit Harum Makmur (SHM) dengan luas ± 16.500 Ha melalui SK Bupati Bungo No. 710/Adm SDA Tahun 2009 yang berada di wilayah Kecamatan Rantau Pandan dan Kecamatan Bathin III Ulu yang berbatasan dengan kawasan Hutan Desa. Selain itu juga terdapat izin PT. Citra Sawit Harum (CSH) dengan luas ± 10.500 Ha melalui SK Bupati Bungo No. 282/Perek Tahun 2007 di Kecamatan Pelepat dan PT Prima Mas Lestari (PML) melalui SK Bupati Bungo No. 255/Tapem/2008 di Kecamatan Pelepat.

Juga dikawasan areal penggunaan lain (APL), masyarakat setempat memanfaatkan kawasan ini dengan menjadikannya sebagai kebun karet campur (agroforest). Agroforest dalam kekayaan biodiversitynya hampir sama dengan hutan. “Melihat beragamnya pemanfaatan dan keberadaan kawasan yang berada di wilayah hulu ini, perlu adanya satu kesatuan sistem pengelolaan yang saling mendukung, sehingga keberadaan eksosistem Bujang Raba dapat dipertahankan secara lestari dan berkelanjutan,”sebutnya. (rls/***)

source: Metro Jambi

——————————————
#kabaKawasan in another news