Kebakaran di Lahan Gambut

TRADISI TUMBANG BAKAR BAGI PERTANIAN MASYARAKAT

PAQt, October 2012

Musim Kemarau hampir saja berlalu dan Musim Hujan pun mulai menaungi langit Sumatra. Titik api pun mulai tampak berkurang dari laporan data satelit NOAA bagi kawasan Sumatra. Di beberapa daerah pun banjir mulai menutupi perkampungan masyarakat. Langit mendung pun menghiasi cakrawala Pulau Sumatra. Negara tetangga juga tidak heboh lagi dengan kabut asap. Beberapa penerbangan pun tetap delay yang disebabkan bukan oleh kabut asap melainkan oleh mendung yang kadang menimbulkan badai.

Bagi masyarakat Petani Kebun di beberapa wilayah Sumatra, musim hujan adalah anugerah tersendiri. Anugerah ini merupakan kelanjutan dari anugerah musim kemarau. Mereka memiliki tradisi yang sudah turun temurun dalam berkebun. Kenapa dikatakan Tradisi? Karena mereka selalu melakukan kegiatan yang sama dari tahun ke tahun dalam melakukan pengelolaan lahan mereka terutama terhadap lahan baru. Tradisi tersebut adalah Tradisi Tumbang Bakar Tanam (Tumbanam). Tradisi ini sepertinya juga diikuti oleh beberapa perusahaan perkebunan yang tanamannya sudah tidak produktif dan harus digantikan dengan tanaman baru. Tetap saja ini adalah sebuah siklus waktu yang menjadi sebuah Tradisi.

Secara mikro-iklim, perubahan iklim sudah mulai dirasakan oleh masyarakat terutama oleh para petani. Bagi petani sawah, kadang terjadi pergeseran masa tanam. Namun berbeda bagi petani kebun khususnya di wilayah timur, dimana asumsi musim kemarau yang bergerak dari Maret hingga Agustus tetap masih dirasakan begitu juga dengan musim hujan dari September hingga Februari. Padahal secara umum, kondisi itu sudah bergeser beberapa minggu dari tahun-tahun sebelumnya.

Asumsi musim kemarau yang konsisten tersebut bagi petani kebun telah mendorong mereka untuk terus melakukan Tradisi Tumbang Bakar. Biasanya Tradisi ini dilakukan pada lahan yang berkawasan hutan atau belukar atau sesap. Penumbangan vegetasi yang berupa pohon dilakukan pada awal-awal musim kemarau yang selanjutnya dilakukan pembakaran terhadap vegetasi yang ditumbang tersebut.

Pada masa pembakaran inilah wilayah Sumatra dan sekitarnya ditutupi oleh kabut asap. Bagi lahan yang berada di perbukitan dan daratan, dampak kebakaran tersebut tidak begitu luas bagi kawasan tersebut. Namun bagi lahan yang berada di kawasan gambut, dampaknya secara luasan akan terus menyebar dan memiliki waktu yang lama untuk pemadamannya. Sehingga akan memberikan dampak yang nyata bagi lingkungan seperti adanya kabut asap.

Ketika musim hujan datang, masyarakat mulai menanam padi ladang dan tanaman holtikultura lainnya. Tanaman ini akan ditanam untuk beberapa kali musim hingga sisa-sisa pepohonan yang tidak terbakar mulai hancur. Kadang-kadang baru sekali musim, tanaman sawit pun mulai ditanam bila masyarakatnya sudah terpengaruh dengan tanaman sawit. Namun bagi yang menanam Karet atau tanaman yang berupa pohon, penanaman tanaman holtikultura itu bisa berlangsung hingga 2-3 musim.

Setiap kembalinya siklus musim kemarau, masyarakat kembali melakukan pembakaran bagi lahannya dimana tanaman holtikultura yang berumur singkat tersebut sudah panen dan dibiarkan menjadi sesap hingga belukar. Sesap dan belukar inilah yang kembali dibakar pada musim kemarau berikutnya tersebut. Sehingga siklus ini sudah menjadi tradisi yang terus berlanjut dari tahun ke tahun. Belum lagi kalau dilakukan perluasan atau penambahan pembukaan lahan baru, tradisi ini akan tetap berlaku.

Tradisi Tumbanam ini hingga saat ini masih dilakukan oleh masyarakat dan beberapa perusahaan perkebunan. Sehingga
kabut asap pun akan terus mewarnai langit Sumatra setiap tahunnya. (qt)