JUMLAH TUMBUHAN TERANCAM PUNAH MENINGKAT

Kompas | Yunanto Wiji Utomo | Kamis, 4 Oktober 2012 | 08:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Jumlah Tumbuhan di Indonesia yang terancam punah meningkat. Aktivitas perusakan hutan dan alih fungsi lahan merupakan penyebabnya.

Hal itu mengemuka dalam diskusi “”Strategi Global untuk Konservasi Tumbuhan (GSPC) dan Upaya Implementasi Target-targetnya bagi Pelestarian Pelestarian Tumbuhan di Indonesia” di Bogor, Rabu (3/10/2012).

“Dalam Summary Report IUCN (International Union for Conservation of Nature) tahun 2012, Indonesia berada di peringkat keempat bersama Brasil sebagai negara dengan jumlah tumbuhan terancam kepunahan tertinggi di dunia, yaitu sebanyak 393 jenis,” kata Mustaid Siregar, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor.

Dengan jumlah tersebut, kata Mustaid, jumlah tumbuhan terancam punah meningkat sebesar 1,7 persen. Indonesia dan Brasil berada di posisi keempat setelah Ekuador, Malaysia dan China.

Mustaid mencontohkan, beberapa tumbuhan yang terancam punah ialah mangga kasturi endemik Kalimantan Selatan, jenis-jenis meranti, kantung semar serta beberapa spesies anggrek, palem dan paku-pakuan.

Upaya konservasi belum optimal

Terkait upaya konservasi tumbuhan, Indonesia sebenarnya telah memiliki instrumen yang membantu pelestarian tingkat ekosistem hingga genetik. Indonesia meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati pada 23 Agustus 1994. Dalam konvensi tersebut termuat program Strategi Global Konservasi Tumbuhan (GSPC).

Mustaid mengungkapkan, GSPC menetapkan 16 target dalam upaya pelestarian tumbuhan. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sebagai national focal point telah berupaya memenuhi target tersebut.

Beberapa target yang berhasil dicapai antara lain target flora online untuk semua tumbuhan yang diketahui. Kini, data tumbuhan dari 4 kebun raya di Indonesia sudah dapat diakses secara online.

Selain itu, target untuk mempelajari status konservasi dari seluruh spesies yang diketahui juga telah dilakukan. Sejak 2010, telah disusun daftar spesies prioritas untuk dikonservasi, mencakup 4 famili tumbuhan di tahun 2010 dan 2 famili di tahun 2011.

Sayangnya, Mustaid menuturkan bahwa upaya pemenuhan target GSPC belum optimal. “Hingga 2010, seharusnya sudah sekitar 60 persen spesies tanaman terancam punah sudah dikonservasi secara ex-situ dari target pencapai 75 persen di tahun 2020. Namun kebun raya baru mengkonservasi sekitar 21,5 persen,” paparnya.

Menurut Mustaid, belum optimalnya upaya pemenuhan target GSPC disebabkan karena kurang terpusatnya data capaian target. Ia mengharapkan, pihaknya bisa memperoleh keterkinian informasi capaian target dari masing-masing stakeholder seperti Kementerian Kehutanan, Lingkungan Hidup dan Pertanian.

“Dengan demikian, jejaring nasional yang berkaitan dengan target-target GSPC perlu segera dibangun dan diberdayakan,” katanya.

Mustaid juga mengatakan perlunya taksonom. Jumlah taksonom masih sangat terbatas untuk mampu menginventarisasi kekayaan hayati Indonesia.

———————————
source: kompas.com