Home

Badak Sumatera jadi Satwa Nasional 2012

Leave a comment

Badak Sumatera
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang semakin terancam populasinya akibat semakin berkurangnya kawasan hutan hujan tropis dan perburuan liar (Sumber Foto: M. Agung Rajasa/Antara)

Badak Sumatera jadi Satwa Nasional 2012

AntaraNews.com – Senin, 19 November 2012 16:36 WIB

Jakarta (ANTARA News) – Dalam rangkaian peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2012, Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) ditetapkan sebagai Satwa Nasional 2012, sementara Mangrove Kandellia Candel (Rhyzoporaceae) menjadi Puspa Nasional.

Dikutip dari siaran pers Kementerian Lingkungan Hidup yang diterima ANTARA, di Jakarta, Senin, penetapan ini dilakukan untuk memperkuat momentum upaya bersama melindungi dan memanfaatkan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia dalam jenis:
Posisi nomor satu terkaya untuk: Mamalia (515 jenis, 36 persen di antaranya endemik) dan Kupu-kupu Swallowtail (121 jenis, 44 persen di antaranya endemik)
Posisi nomor tiga terkaya untuk: Reptil (lebih dari 600 jenis)
Posisi keempat terkaya untuk: Burung (1.519jenis, 28 persen di antaranya endemik)
Posisi kelima terkaya untuk: Amfibi (lebih dari 270 jenis)
Posisi ketujuh terkaya untuk: Flora berbunga

“Kekayaan alam Indonesia ini, baik dalam tingkatan ekosistem, spesies dan genetik, apabila dikelola secara benar mampu memberikan manfaat untuk memenuhi kebutuhan umat manusia. Oleh karena itu, anugerah kekayaan itu wajib disyukuri, dikelola, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran bangsa Indonesia, baik bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang” demikian pesan Menteri Lingkungan Hidup, Prof. DR. Balthasar Kambuaya, MBA.

Badak Sumatera
Berdasarkan data dari IUCN (International Union for Conservation of Nature) populasi Badak Sumatera berada dalam status “kritis punah”.

Hanya sekitar kurang dari 250 ekor badak Sumatera dewasa yang ada di seluruh dunia. Populasi ini diperkirakan akan berkurang 25 persen dalam masa satu generasi ke depan (panjang satu generasi sekitar 20 tahun).

Saat ini, badak Sumatera diketahui hanya hidup di Sumatera, yaitu di Way Kambas, Taman Nasional Gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Kerinci-Seblat.

Keberadaan badak menjadi sangat terdesak dikarenakan adanya keterbatasan ruang akibat alih fungsi lahan dan kondisi lingkungan yang kurang mendukung kehidupannya.

Kelahiran “Andatu” (bayi badak) di Taman Nasional Way Kambas, menjadi momentum penyelamatan Badak Sumatera. Ini membuktikan bahwa Indonesia mampu menyelamatkan populasi Badak yang sudah semakin punah. (ANTARA)

Source: antaranews.com

Advertisements

Spesies Kelinci Langka Kembali Dijumpai di Sumatra

Leave a comment

Spesies Kelinci Langka Kembali Dijumpai di Sumatra

National Geographic Indonesia
Berita / Alam dan Lingkungan
Kamis, 24 Mei 2012, Pukul 22:02 WIB

Kelinci tersebut ditemukan di dua lokasi berbeda, berjarak 790 meter di kawasan Liwa, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Sekelompok peneliti dari University of Delaware berhasil merekam gambar seekor kelinci di pedalaman hutan Sumatra. Bukan kelinci biasa, kelinci yang ditemukan merupakan kelinci belang Sumatra (Nesolagus netscheri), salah satu spesies hewan paling langka di dunia yang sebelumnya baru pernah tertangkap kamera sebanyak tiga kali saja.

Uniknya, para peneliti tidak sengaja menemukan hewan tersebut, karena mereka sebenarnya tengah mencari kucing-kucing liar seperti macan tutul, berukuran menengah dan kecil. Berhubung belum pernah ada studi yang komprehensif terkait kelinci belang Sumatra, Jennifer McCarthy, peneliti dari Department of Entomology and Wildlife Ecology, College of Agriculture and Natural Resources (CANR) menyatakan, selain melanjutkan studi mereka terkait spesies kucing-kucing tersebut, mereka juga akan fokus melakukan penelitian terhadap spesies kelinci ini.

“Ini merupakan data terbanyak yang pernah dikumpulkan terkait kelinci-kelinci ini,” kata McCarthy. “Saat ini yang kami pikirkan adalah bagaimana mencari informasi terkait berapa jumlah mereka dalam satu area dan kami berharap temuan ini bisa menjadi pemicu ke arah sana,” ucapnya.

Dalam studinya, McCarthy menggunakan sepuluh foto kelinci belang Sumatra yang didapat di dua lokasi berbeda berjarak 790 meter di kawasan Liwa, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Setelah mengumpulkan foto-foto, tim peneliti melakukan survei di antara rekan-rekan sesama peneliti yang bekerja di kawasan dilindungi lainnya di Sumatra. Tujuannya untuk mengetahui apakah mereka pernah mendokumentasikan kelinci belang Sumatra untuk mendapatkan gambaran di mana kelinci-kelinci ini tinggal.

Menurut McCarthy, kolaborasi antara berbagai kelompok peneliti spesies hewan sangat dibutuhkan karena jika tidak, mereka akan menyia-nyiakan sebuah temuan yang sangat penting.

Benar saja, McCarthy dan timnya mendapati bahwa para peneliti tidak pernah mencatat spesies tersebut. Namun, terungkap bahwa sejumlah ilmuwan di Taman Nasional Kerinci Seblat, yang terletak di empat wilayah propinsi yaitu Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatra Selatan, baru-baru ini pernah melihat kelinci itu beberapa kali.

Saat ini, McCarthy dan timnya sangat bersemangat untuk mempelajari spesies yang telah terlalu lama diabaikan tersebut. “Kami punya kesempatan bukan hanya untuk menemukan kembali spesies ini, tetapi yang penting adalah agar perhatian kembali diberikan pada spesies kelinci yang sangat langka,” ucapnya.

“Seringkali, spesies seperti kelinci tidak diperhatikan karena sebagian orang tidak tahu bahwa ada spesies kelinci Sumatra. Salah satu bagian dari melakukan pekerjaan lapangan di kawasan terpencil adalah, kita bisa menemukan hal-hal seperti ini, dan itu sangat penting bagi upaya konservasi,” ucap McCarthy. McCarthy dan timnya sendiri mempublikasikan detail temuannya di Oryx, sebuah jurnal internasional terkait kehidupan satwa liar.
(Abiyu Pradipa. Sumber: PhysOrg, Dephut)

source: National Geographic Indonesia

————————
#infoLamaBeritaBaru

Menhut Luncurkan Empat Perangko Seri Burung Terancam Punah Indonesia

Leave a comment

Menhut Luncurkan Empat Perangko Seri Burung Terancam Punah Indonesia

Kementerian Kehutanan, 13 Juli 2012
Nomor : S. 431/PHM-1/2012

Kementerian Kehutanan bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi & Informatika, Direktorat Jenderal Pos & Telekomunikasi, dan Burung Indonesia akan meluncurkan empat perangko seri “Burung Terancam Punah Indonesia” di Kebun Raya Bogor, pada hari Minggu, 15 Juli 2012, bertepatan dengan hari perayaan keragaman burung di Indonesia dan sekaligus Ulang Tahun Burung Indonesia ke-10. Pada acara tersebut, akan dilakukan pula penandatanganan Sampul Hari Pertama (SHP) perangko seri “Burung Terancam Punah Indonesia” oleh Menteri Kehutanan. Perangko empat jenis burung terancam punah ini dicetak sebanyak 50 ribu lembar dalam bentuk minisheet dan 300 ribu lembar untuk fullsheet.

Empat jenis burung terancam punah Indonesia yang menghiasi perangko tersebut adalah elang flores (Nisaetus floris), celepuk siau (Otus siaoensis), burung-madu sangihe (Aethopyga duyvenbodei), dan mandar gendang (Habroptila wallacii).

Elang flores (Nisaetus floris) merupakan burung berukuran 71-82 cm yang hanya terdapat di pulau Lombok (pada batas Taman Nasional Rinjani), Sumbawa dan Flores, serta pulau kecil Satonda dan Rinca. Populasi yang hanya 100 pasang dan cenderung menurun karena kerusakan dan kehilangan habitat, menjadikan Badan Konservasi Dunia (IUCN) pada tahun 2009 menetapkan sebagai jenis Kritis (Critically Endangered/CR). Celepuk Siau (Otus siaoensis) merupakan burung hantu yang termasuk dalam kelompok Strigidae. Informasi keberadaan jenis ini hanya berdasarkan spesimen yang dikoleksi di Pulau Siau, Sulawesi Utara, pada 1866. Perkiraan populasi tidak lebih dari 50 individu dewasa, karenanya ditetapkan sebagai Kritis (Critically Endangered/CR). Burung-madu sangihe (Aethopyga duyvenbodei) merupakan jenis burung-madu berukuran 12 cm yang hanya dapat dijumpai di pulau kecil Sangihe dan populasinya tersebar terpisah. Populasinya di alam diperkirakan antara 13.000-29.000 individu dewasa. Menyusutnya hutan primer dan sekunder menyebabkan Badan Konservasi Dunia (IUCN) menempatkannya sebagai jenis yang Genting (Endangered/EN). Kepadatannya sangat rendah, kecuali di satu lokasi: Pegunungan Sahendaruman. Mandar gendang (Habroptila wallachii) merupakan jenis yang hanya dijumpai di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Populasinya terus menurun akibat habitatnya yang terfragmentasi sehingga IUCN menetapkannya dengan status Rentan (Vulnerable/VU). Burung tanah berukuran 40 cm yang tidak dapat terbang ini jumlahnya diperkirakan antara 2.500-9.999 individu dewasa.

Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memenuhi target konvensi pelestarian keragaman hayati (UN-CBD) berupa mengurangi kehilangan habitat alami penting; meningkatkan manfaat alam seperti layanan ekosistem dan restorasi. Burung-burung dapat menjadi alat untuk memenuhi target tersebut, melalui alat Daerah Penting bagi Burung (DPB), kawasan yang memerlukan aksi konservasi prioritas dapat diidentifikasi. Demikian pula aksi konservasi yang dilakukan menjadi terukur dan terarah melalui pemantauan DPB tersebut. Hal ini akan semakin baik pula dengan ditunjang oleh kerjasama dengan para pihak, baik di dalam maupun di luar jaringan kawasan konservasi.

Sebagai negara mega bird diversity, Indonesia merupakan negara kelima terbesar habitat species burung dengan kekayaan sebanyak 1.597 jenis atau 16 % dari total 10.000 species burung yang ada di dunia. Dari hampir 1.600 jenis burung di Indonesia, 126 jenis di antaranya merupakan jenis-jenis terancam punah. Keempat jenis burung yang menghiasi seri perangko kali ini merupakan jenis-jenis burung terancam punah yang hanya terdapat di kawasan Wallacea. Wallacea merupakan sebuah kawasan yang terdiri dari ribuan pulau kecil yang terletak di antara kawasan Asia di barat dan Australasia di timur. Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara merupakan bagian dari Wallacea. Posisinya yang unik membuat kawasan ini kaya akan fauna campuran dari dua benua tersebut sekaligus ratusan spesies endemik atau sekitar 67 persen.

Jakarta, 13 Juli 2012
Kepala Pusat
Kepala Bidang Pemberitaan dan Publikasi,
Ir. Erna Rosdiana, MSi.
NIP. 19620331 198703 2 001

source: INCL PILI – Green Network Edisi 15-26b, 16 Juli 2012

Older Entries

%d bloggers like this: