Home

Leave a comment

We are celebrating the golden age for brighter future

Climate Change telah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat dunia. Berbagai hal dilakukan untuk mengurangi dampak dari masalah ini. Dalam beberapa dekade terakhir ini, peneliti dari berbagai level dan bidang sedang gencar-gencarnya melakukan penelitian tentang perubahan iklim dalam berbagai aspek kajian.

Dalam rangka menyambut HUT EMAS 50 TAHUN JURUSAN BIOLOGI FMIPA UNIVERSITAS ANDALAS, kami mengadakan “The International Symposium on The Impact of Climate Change on Tropical Rainforest Biodiversity in Sumatra” . Simposium Internasional ini akan dilakasanakan pada:

View original post 158 more words

Advertisements

LIPI Akan Selidiki Praktik “Biopiracy”

Leave a comment

LIPI Akan Selidiki Praktik “Biopiracy”

Sumber : Kompas.com, 4 Mei 2012
Oleh : Yunanto Wiji Utomo dan Kistyarini
Cibinong

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia akan mulai menyisir praktik biopiracy di Indonesia. Biopiracy adalah praktik eksploitasi sumber daya alam dan pengetahuan masyarakat tentang alamnya tanpa izin dan pembagian manfaat. Ide ini tercetus setelah kasus kecolongan publikasi yang dialami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) beberapa waktu lalu. Peneliti LIPI terlibat dalam penemuan spesies baru tawon Megalara garuda dalam proyek kerja sama dengan University of California, Davis. Namun, namanya tak dicantumkan dalam publikasi. Bambang Prasetya, Deputi Kepala Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, mengatakan, steering committee bekerja sama dengan UC Davis dari Institut Teknologi Bandung, Kementerian Kehutanan, dan LIPI sudah membicarakan ide penyisiran praktik biopiracy.

Untuk menyisir, Bambang saat ditemui dalam lokakarya “Ekosistem Karst untuk Kelangsungan Hidup Bangsa” di LIPI Cibinong, Kamis (3/5/2012), menerangkan, “Kami akan melihat publikasi penelitian dengan lokus Indonesia, tetapi tidak ada peneliti Indonesia.” Dengan cara tersebut, akan diketahui bahwa ada peneliti asing yang melakukan penelitian di Indonesia tanpa izin. Dengan melakukan penelitian tanpa izin, peneliti asing yang dimaksud sudah melakukan tindak biopiracy. Bambang mengatakan, jika tindak biopiracy terbukti, LIPI sebagai scientific authority akan memberikan rekomendasi untuk pembuatan regulasi baru atau memperketat regulasi yang ada berkaitan dengan izin penelitian peneliti asing.

Perguruan tinggi perlu sadar
Rosichon Ubaidillah, peneliti serangga parasitoid dari Puslit Biologi LIPI, mengungkapkan, tindak biopiracy diduga sering berlangsung di Indonesia. Peneliti asing menawarkan kerja sama dengan perguruan tinggi di daerah atau peneliti secara pribadi tanpa izin. “Perguruan tinggi ini perlu sadar. Makanya, perlu sosialisasi pada perguruan tinggi agar mengerti aturan kerja sama dengan asing,” papar Rosichon yang menjadi pemberi nama spesies Megalara garuda. Menurut dian, setiap orang harus berpikir bahwa peneliti asing yang meneliti dan mengambil spesies tanpa izin adalah pencuri, pelaku tindak biopiracy. Ia mengatakan, biodiversitas Indonesia harus dilindungi.

—————————-
#Info Lama, Berita Baru

Pakar: Bukit Andalas menjanjikan untuk konservasi eksitu

Leave a comment

HPPB of Andalas Botanic Garden
Tutupan Tajuk Pohon yang masih rapat di kawasan Kebun Raya Universitas Andalas yang menjadi kediaman bagi berbagai Flora dan Fauna di dalamnya (Photo by naturasumatrana)

Pakar: Bukit Andalas menjanjikan untuk konservasi eksitu

Sumber : Antara News, 29 Februari 2012
Padang

Pakar Ilmu Tanaman dari Universitas Andalas (Unand) Prof. Mansyurdin mengemukakan Bukit Andalas di Kecamatan Pauh Kota Padang, cocok dijadikan sebagai konservasi eksitu yakni perlindungan terhadap lingkungan makhluk hidup di luar habitat aslinya. “Kecocokan tersebut diindikasikan oleh banyaknya populasi dan variasi genetik yang dapat hidup di kawasan Bukit Andalas,” katanya di Padang, Rabu. Ia menilai, konservasi eksitu berguna sebagai penyanggah habitat asli yang ada di suatu kawasan perbukitan.

Menurut dia, rusaknya habitat mengakibatkan kepunahan pada tanaman. Habitat yang rusak juga berakibat kepada kehidupan habitat lain. “Sementara, dalam lingkup luas, kerusakan habitat akan mempengaruhi perubahan iklim,” katanya. Perubahan iklim akan menghambat pertumbuhan dan inbreeding (penyerbukan) pada tanaman juga terganggu. Dengan populasi dan variasi genetik yang sedikit, tanaman sulit untuk menghadang perubahan iklim, katanya.

Ia mencontohkan, di Lembah Anai Kabupaten Tanah Datar, populasi tanaman terbilang sedikit dengan habitat yang mulai mengalami kerusakan dan dikhawatirkan lama-kelamaan akan punah. Berbeda dengan di Bukit Andalas, lanjut dia, di perbukitan itu habitatnya masih alami dan dalam kondisi baik serta populasi tanaman juga banyak. “Di Sumbar terdapat belasan tanaman yang tergolong langka. Tanaman tersebut berjumlah lebih kurang 50 populasi dalam satu hektar dalam arealnya,” ungkap Ketua Program Studi Biologi Pascasarjana Unand itu.

Tetapi, lanjut dia, tidak seluruh tanaman yang hampir punah dikonservasi. Di Sumbar, proteksi terhadap lingkungan tanaman dalam habitat aslinya (konservasi insitu) sudah mulai mengalami kerusakan. “Hal ini salah satunya disebabkan oleh aktivitas penduduk yang menggunakan lahan untuk kepentingan lain,” katanya. Ia menyebutkan, pihaknya telah membuat suatu lahan di Bukit Andalas untuk melestarikan tanaman langka.

Lahan tersebut sudah mengoleksi 50 tanaman langka yang didatangkan dari Provinsi Riau dan Jambi, kata dia. Tanaman yang sudah dikonservasi, lanjut dia, seperti Bunga Andaleh, Kemenyan, Mangga Pesisir, dan Palasan. “Dengan areal 15 hektar, lahan Bukit Andalas dapat menampung seluruh tanaman langka di Sumbar. Dalam persaingan mendapatkan makanan antar tanaman tidak menjadi persoalan karena perolehan makanan didapatkan dari unsur hara,” katanya. Ia menambahkan, Bukit Andalas mempunyai intensitas air cukup dengan ketinggian daerah lebih kurang dua ratus meter di atas permukaan laut. “Keadaan ini telah memenuhi syarat daerah yang dijadikan sebagai wilayah konservasi,” katanya.

Source: Antara News, excluded front Photo
———————————————————-
“Use Paperless to Save Our Remaining Forest”

Older Entries

%d bloggers like this: