Home

Menhut Luncurkan Empat Perangko Seri Burung Terancam Punah Indonesia

Leave a comment

Menhut Luncurkan Empat Perangko Seri Burung Terancam Punah Indonesia

Kementerian Kehutanan, 13 Juli 2012
Nomor : S. 431/PHM-1/2012

Kementerian Kehutanan bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi & Informatika, Direktorat Jenderal Pos & Telekomunikasi, dan Burung Indonesia akan meluncurkan empat perangko seri “Burung Terancam Punah Indonesia” di Kebun Raya Bogor, pada hari Minggu, 15 Juli 2012, bertepatan dengan hari perayaan keragaman burung di Indonesia dan sekaligus Ulang Tahun Burung Indonesia ke-10. Pada acara tersebut, akan dilakukan pula penandatanganan Sampul Hari Pertama (SHP) perangko seri “Burung Terancam Punah Indonesia” oleh Menteri Kehutanan. Perangko empat jenis burung terancam punah ini dicetak sebanyak 50 ribu lembar dalam bentuk minisheet dan 300 ribu lembar untuk fullsheet.

Empat jenis burung terancam punah Indonesia yang menghiasi perangko tersebut adalah elang flores (Nisaetus floris), celepuk siau (Otus siaoensis), burung-madu sangihe (Aethopyga duyvenbodei), dan mandar gendang (Habroptila wallacii).

Elang flores (Nisaetus floris) merupakan burung berukuran 71-82 cm yang hanya terdapat di pulau Lombok (pada batas Taman Nasional Rinjani), Sumbawa dan Flores, serta pulau kecil Satonda dan Rinca. Populasi yang hanya 100 pasang dan cenderung menurun karena kerusakan dan kehilangan habitat, menjadikan Badan Konservasi Dunia (IUCN) pada tahun 2009 menetapkan sebagai jenis Kritis (Critically Endangered/CR). Celepuk Siau (Otus siaoensis) merupakan burung hantu yang termasuk dalam kelompok Strigidae. Informasi keberadaan jenis ini hanya berdasarkan spesimen yang dikoleksi di Pulau Siau, Sulawesi Utara, pada 1866. Perkiraan populasi tidak lebih dari 50 individu dewasa, karenanya ditetapkan sebagai Kritis (Critically Endangered/CR). Burung-madu sangihe (Aethopyga duyvenbodei) merupakan jenis burung-madu berukuran 12 cm yang hanya dapat dijumpai di pulau kecil Sangihe dan populasinya tersebar terpisah. Populasinya di alam diperkirakan antara 13.000-29.000 individu dewasa. Menyusutnya hutan primer dan sekunder menyebabkan Badan Konservasi Dunia (IUCN) menempatkannya sebagai jenis yang Genting (Endangered/EN). Kepadatannya sangat rendah, kecuali di satu lokasi: Pegunungan Sahendaruman. Mandar gendang (Habroptila wallachii) merupakan jenis yang hanya dijumpai di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Populasinya terus menurun akibat habitatnya yang terfragmentasi sehingga IUCN menetapkannya dengan status Rentan (Vulnerable/VU). Burung tanah berukuran 40 cm yang tidak dapat terbang ini jumlahnya diperkirakan antara 2.500-9.999 individu dewasa.

Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memenuhi target konvensi pelestarian keragaman hayati (UN-CBD) berupa mengurangi kehilangan habitat alami penting; meningkatkan manfaat alam seperti layanan ekosistem dan restorasi. Burung-burung dapat menjadi alat untuk memenuhi target tersebut, melalui alat Daerah Penting bagi Burung (DPB), kawasan yang memerlukan aksi konservasi prioritas dapat diidentifikasi. Demikian pula aksi konservasi yang dilakukan menjadi terukur dan terarah melalui pemantauan DPB tersebut. Hal ini akan semakin baik pula dengan ditunjang oleh kerjasama dengan para pihak, baik di dalam maupun di luar jaringan kawasan konservasi.

Sebagai negara mega bird diversity, Indonesia merupakan negara kelima terbesar habitat species burung dengan kekayaan sebanyak 1.597 jenis atau 16 % dari total 10.000 species burung yang ada di dunia. Dari hampir 1.600 jenis burung di Indonesia, 126 jenis di antaranya merupakan jenis-jenis terancam punah. Keempat jenis burung yang menghiasi seri perangko kali ini merupakan jenis-jenis burung terancam punah yang hanya terdapat di kawasan Wallacea. Wallacea merupakan sebuah kawasan yang terdiri dari ribuan pulau kecil yang terletak di antara kawasan Asia di barat dan Australasia di timur. Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara merupakan bagian dari Wallacea. Posisinya yang unik membuat kawasan ini kaya akan fauna campuran dari dua benua tersebut sekaligus ratusan spesies endemik atau sekitar 67 persen.

Jakarta, 13 Juli 2012
Kepala Pusat
Kepala Bidang Pemberitaan dan Publikasi,
Ir. Erna Rosdiana, MSi.
NIP. 19620331 198703 2 001

source: INCL PILI – Green Network Edisi 15-26b, 16 Juli 2012

Tahun 2011, 40 Harimau Sumatera Mati

Leave a comment

Tahun 2011, 40 Harimau Sumatera Mati

Sumber : Jurnas.com, 17 Januari 2012
Oleh : Tria Dianti

Sepanjang tahun 2011, sekitar 40 harimau Sumatera mati. Padahal spesies harimau tersebut di Indonesia tinggal 400 ekor saja. Hal tersebut dinyatakan oleh Dirjen Perlindungan dan Konservasi Alam (PHKA) Darori saat Lokakarya Penggalangan Sumber Daya untuk Pelaksanaan Rencana Nasional Pemulihan Harimau Sumatera di Jakarta, Selasa (17/1).

Ia mengatakan, harimau sumatera ini kebanyakan mati karena konflik, baik dengan masyarakat maupun dengan pemburu liar yang menjual kulitnya di luar negeri dengan harga mahal. “40 ekor yang mati sepanjang tahun akibat konflik. Kemudian di Bengkulu kemarin ada 4 harimau yang diselamatkan dari perangkap harimau. Kalau tidak dicegah dari sekarang bisa punah harimau kita,” katanya. Harimau (Panthera tigris) memiliki sembilan subspesies di dunia, namun tiga spesies di antaranya sudah punah. Dua subspesies yang sudah punah di Indonesia yakni Harimau Jawa dan Harimau Bali.

Menurut Country Director Wildlife Conservation Society, Noviar Andayani, satu subspesies yang punah lainnya adalah Harimau Kaspia. Kemudian satu subspesies lain yakni Harimau China Selatan (Panthera tigris amoyensis) juga “punah secara fungsional” karena karena kehilangan habitat dan buruan. “Lima spesies lainnya bisa segera punah jika tak ada perhatian lebih lanjut atas habitat mereka. Saat ini tersisa hanya 3.200 harimau di dunia,” katanya.

Ia mengatakan, kepunahan mereka dipicu perdagangan ilegal atas tubuh harimau yang dipercaya sebagai obat-obatan. Kemudian harimau juga dihadapkan dengan masalah ekspansi lahan pertanian, perkebunan dan penebangan hutan. “Tanpa respons segera untuk menyelamatkan harimau, harimau liar akan punah pada 2022,” katanya.

Catatan: Diterbitkan juga dalam INCL Edisi 15-04b tanggal 24 Januari 2012

Spesies ular langka ditemukan di Bukit Barisan Selatan

Leave a comment

Spesies ular langka ditemukan di Bukit Barisan Selatan

WWF, 3 November 2011

Kabar menggembirakan datang dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung! Peneliti Senior WWF-Indonesia, Ridwan Setiawan – yang lebih dikenal dengan Iwan Podol – menemukan jenis ular langka yaitu Sumatran pitviper atau Sumatran tree viper (Trimeresurus sumatranus). Sebaran habitatnya dari daratan dan kepulauan Sumatera seperti Mentawai dan Nias, Borneo, sampai ke semenanjung Malaysia hingga Thailand.

Sumatran pitviper merupakan ular derik berbisa ini mempunyai corak yang tidak biasa: berdasar dominan abu-abu dengan bintik kuning kehijauan juga mempunyai ekor berwarna kemerahan. Ular jenis ini sudah jarang ditemukan. Biasanya ular ini hibernasi (tidur) di cabang pepohonan. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) merupakan habitat yang cocok untuk Sumatran pitviper karena temperaturnya yang lembab dan beragam satwa mangsa. Selain Sumatran pitviper, TNBBS merupakan habitat alami dari harimau, badak dan gajah Sumatera.

Kingdom: Animalia Phylum: Chordata Subphylum: Vertebrata Class: Reptilia Order: Squamata Suborder: Serpentes Family: Viperidae Subfamily: Crotalinae Genus: Trimeresurus Species: T. sumatranus

sumber: INCL Edisi 14-43b, 7 November 2011

%d bloggers like this: