Home

RENCANA KERJA HUTAN NAGARI SIMANCUANG DISYAHKAN OLEH GUBERNUR SUMBAR

Leave a comment

Suasana Penyerahan Dokumen RKHN dari Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat kepada Ketua LPHN Jorong Simancuang di Masjid Simancuang (25 Okt 2013) [photo: naturasumatrana]

RENCANA KERJA HUTAN NAGARI SIMANCUANG DISYAHKAN OLEH GUBERNUR SUMBAR

TBU-S | PA Q-Ting | Padang – Sabtu, 26 Oktober 2013

Langit mendung dengan awan tebal yang gelap menyelimuti Lembah Simancuang. Lebih kurang 30 orang masyarakat dari Kab. Tanah Datar dan Kab. Sijunjuang dan lebih dari 10 orang Pejabat dari SKPD yang ada di Kab. Solok Selatan dan Provinsi Sumbar sedang berada di Lembah Simancuang ini. Masyarakat yang menghuni Lembah Simancuang ini dalam 3 tahun terakhir telah dikenal sebagai salah satu Kelompok Masyarakat yang sedang melakukan pengelolaan kawasan hutan dalam bentuk Skema Hutan Nagari. Tanggal 25 Oktober 2013 yang lalu, semua pihak yang datang ke Lembah Simancuang yang berada di wilayah Nagari Alam Pauh Duo Kab. Solok Selatan tersebut mengikuti beberapa kegiatan penting dalam Pengelolaan Kawasan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM). Bagi masyarakat Jorong Simancuang sendiri, kegiatan yang ditunggu-tunggu adalah Penyerahan Dokumen Rencana Kerja Hutan Nagari (RKHN) yang sudah ditandatangani oleh Gubernur Sumbar kepada Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Jorong Simancuang.

Lembah Simancuang yang memiliki Hutan Nagari bagi Skema Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) (photo: naturasumatrana)

Pada awalnya, Hutan Nagari Simancuang ini memang sudah disiapkan oleh masyarakat Simancuang sebagai kawasan berhutan yang tidak boleh diganggu oleh siapa pun. Pada tahun 2007, kawasan tersebut telah mereka cadangkan sebagai kawasan Hutan Adat namun tidak sampai mendapatkan pengakuan dari Pemerintah. Seiring dengan keluarnya Permenhut 49/2008 tentang Hutan Desa, masyarakat yang sadar bahwa kawasan berhutan tersebut adalah Hutan Lindung mengusulkan kawasan tersebut sebagai Kawasan Hutan Desa di wilayah Jorong mereka tersebut. Dengan difasilitasi oleh KKI WARSI, masyarakat Jorong Simancuang pun mendapatkan Surat Keputusan Izin Areal Pencadangan Hutan Desa seluas 650 ha dari Menteri Kehutanan pada tanggal 3 Oktober 2011.

Sebagai tindak lanjut dari SK tersebut, pada tanggal 19 Januari 2012 Gubernur Sumbar mengeluarkan Keputusan tentang Pemberian Hak Pengelolaan Hutan Nagari (HPHD) kepada Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Jorong Simancuang. Sebagai konsekuensinya, masyarakat Simancuang yang diwakili oleh LPHN mendapat tanggung jawab untuk menyiapkan Dokumen Rencana Kerja Hutan Nagari (RKHN). Dengan didampingi oleh KKI WARSI dan Pokja PHBM Provinsi Sumatera Barat, masyarakat Simancuang menyiapkan Dokumen tersebut dalam serial Diskusi yang selalu dijadwalkan setiap bulannya. Penyiapan Dokumen tersebut pun akhirnya terselesaikan setelah berlangsung Diskusi yang sangat alot dari waktu ke waktu dan menghasilkan sebundel Dokumen RKHN yang ditandatangani oleh Gubernur Sumatera Barat pada awal Bulan Oktober 2013 ini.

Bertepatan dengan kegiatan tersebut, juga diiringi dengan Diskusi bagi dukungan terhadap Dokumen RKHN tersebut yang dilakukan oleh SKPD-SKPD Pemkab. Solok Selatan masyarakat Simancuang. Bertempat di Masjid Jorong Simancuang yang belum selesai sepenuhnya, Diskusi berlangsung alot dan berbagai rencana program untuk tahun 2014 pun tersampaikan dari masing-masing SKPD dalam lingkungan Pemkab Solok Selatan termasuk juga rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh LPHN Jorong Simancuang. Diskusi penyampaian rencana dukungan terhadap Jorong Simancuang yang menjadi Pilot Project bagi PHBM di Kab. Solok Selatan dan di Provinsi Sumatera Barat ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Ir. Hendri Octavia, M.Si dan Koordinator Pokja REDD+ Sumbar Prof. Dr. Hermansyah.

Sebagai acara puncak dari kegiatan sehari ini, Kadishut Provinsi Sumbar menyerahkan Dokumen RKHN yang sudah ditandatangani Gubernur Sumbar secara formal kepada Sekretaris Bappeda Kab. Solok Selatan Evi Thomas dan Ketua LPHN Jorong Simancuang Edison yang mewakili masyarakat Jorong Simancuang. Kadishut Provinsi Sumbar menyatakan bahwa Pemprov khususnya Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar bersama-sama dengan KKI WARSI merasa senang dan bahagia dengan adanya Diskusi ini dimana usaha yang dilakukan oleh Provinsi dan KKI WARSI sejak akhir tahun 2013 dalam usaha PHBM telah menghasilkan kesepakatan antara SKPD-SKPD di lingkungan Pemkab Solok Selatan dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat Jorong Simancuang.

Penyerahan Dokumen RKHN tersebut juga dihadiri oleh Kelompok masyarakat yang datang dari 2 Kabupaten (Tanah Datar dan Sijunjuang) yang mengadakan Studi Banding bagi PHBM di Nagari-Nagari mereka yang didampingi oleh Dinas Kehutanan Kabupaten masing-masing. Pada saat studi banding tersebut dilakukan, Lembah Simancuang sedang dalam keadaan menguning, dimana hamparan sawah seluas lebih kurang 200 ha di Lembah tersebut sudah memasuki tahap panen walaupun hujan terus menyirami Lembah tersebut. Para peserta yang pada awalnya Simancuang berada di pinggir jalan, terpaksa harus berela hati menempuh jalan di pematang-pematang sawah yang bercampur lumpur tersebut. “Benar-benar di luar perkiraan kami kondisi Simancuang ini, kami kira Simancuang ini berada di pinggir jalan. Kalau kami tahu begini, kami pasti bawa sepatu bot. Tapi alamnya benar-benar bagus dengan hamparan sawah yang luas dan hutan yang masih terjaga seperti di perbukitan yang menjadi Hutan Nagari tersebut,” begitu pendapat salah seorang peserta Studi Banding.

Dari semua yang berhadir dalam kesempatan Penyerahan Dokumen RKHN ini khususnya masyarakat Jorong Simancuang sangat berharap dukungan yang sudah disampaikan oleh SKPD-SKPD dalam lingkungan Pemkab. Solok Selatan tersebut dapat benar-benar terlaksana secara baik. Masyarakat Jorong Simancuang pun diharapkan juga mengimplementasikan dukungan dari berbagai pihak tersebut secara nyata. Sehingga apa yang sudah disiapkan oleh Provinsi bersama-sama KKI WARSI dapat bermanfaat bagi masyarakat Jorong Simancuang secara khusus dan masyarakat Solok Selatan secara umumnya. (qt)

#Telah dipublish juga di KabarIndonesia

Catatan:
? Hutan Desa/Nagari ditetapkan oleh Pemerintah dengan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.49//Menhut-II/2008 tentang Hutan Desa
? Izin Areal Pencadangan Hutan Nagari Jorong Simancuang diatur dalam Keputusan Menteri Kehutanan No. SK. 573/Menhut-II/2011 tentang Penetapan Kawasan Hutan Lindung Sebagai Areal Kerja Hutan Desa/Nagari Alam Pauh Duo Seluas ±650 (Enam Ratus Lima Puluh) Hektar di Kecamatan Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat tanggal 3 Oktober 2011
? Hak Pengelolaan Hutan Nagari Jorong Simancuang diberikan oleh Gubernur Sumatera Barat berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Barat No. 522-43-2012 tentang Pemberian Hak Pengelolaan Hutan Nagari Pada Kawasan Hutan Lindung Seluas ±650 (Enam Ratus Lima Puluh) Hektar Kepada Lembaga Pengelola Hutan Nagari Alam Pauh Duo Kecamatan Pauh Duo Kabupaten Solok Selatan Provinsi Sumatera Barat
? Hutan Nagari Jorong Simancuang Nagari Alam Pauh Duo bersama-sama Hutan Nagari Simanau Kec. Tigo Lurah Kab. Solok telah menjadi Hutan Nagari Pertama bagi Provonsi Sumatera Barat yang disyahkan oleh Menteri Kehutanan.
? Lembaga Pengelola Hutan Nagari Jorong Simancuang telah menjadi Kelompok Masyarakat yang mendapatkan Juara II dalam Penghargaan Nasional di bidang Lingkungan di tahun 2013 ini.

Minum Pagi Dengan Adonan Feses Ternak

Leave a comment

Api Biogas
Si Biru, hasil pembakaran Biogas

Minum Pagi Dengan Adonan Feses Ternak

TBU-S, February 2013

Pada kunjungan di awal tahun 2012, udara sejuk pada saat fajar menyingsing di Dusun Senamat Ulu yang diwarnai dengan jeritan Ungko (Hylobates agilis dan sahutan Siamang (Symphalangus syndactylus selalu terlihat deretan ternak peliharaan masyarakat berkeliling di sepanjang jalan. Ternak tersebut mulai bergerak mencari penghidupannya di kawasan semak belukar dan padang rumput yang berada di sekitar Dusun. Sebagai hadiah pagi bagi para pengendara kendaraan dan pejalan kaki yang secara umum merupakan para petani karet adalah Feses Ternak yang bergelimpangan disekitar Dusun.

Menjelang akhir tahun 2012, Si Toengaoe merasakan suatu keanehan pada pagi hari pertama dia berkunjung kembali ke Dusun Senamat Ulu ini. Suasana pagi tetap cerah dengan semua kenikmatan yang temukan sejak pertama kali dia datang ke Dusun ini hingga awal tahun 2012 yang lalu masih dirasakannya. Namun di jalanan yang berada di depan rumah tempat dia bersama kawan-kawannya menetap, di pagi ini dia tidak melihat lagi gunung-gunung kecil berasap berwarna coklat kehijauan bertebaran di jalan yang merupakan jalan utama menuju Pemandian Galagah Buto tersebut.

“Pagi Bang… kemana nih pagi ini?” si Toengaoe bertanya pada seorang Bapak yang mengendarai motor menuju ke arah Galagah Buto. Dia melihat sang Bapak tampak membawa ember yang berisi cairan di motor tersebut.

“Biasa… Membersihkan ranjau..” begitu sang Bapak berteriak sambil terus menggas motornya lambat-lambat.

Si Tongaoe semakin penasaran dengan ucapan sang Bapak. “Ranjau… Wah, jangan-jangan si Bapak itu yang mengangkat gunung-gunung kecil berasap yang dulu bergelimpangan seenaknya” si Toengaoe hanya bisa bergumam sambil terkagum-kagum.

“Eh Toengaoe, pagi ini klo mau minum kopi tahi kerbau, pergi tuh ke rumah Bapak yang barusan lewat. Lebih nikmat dari pada kopi LPG” Ibu Pemilik Rumah itu menyadarkan kebingungan si Tongaoe.

Sang Ibu menceritakan kalau dalam 6 (enam) bulan terakhir, Bapak yang barusan lewat tersebut mulai mengumpulkan tahi kerbau dan tahi sapi yang berserakan di dalam Dusun untuk mengisi tabung Biogas yang ada di belakang rumahnya.

Si Toengaoe langsung berangkat bersama 2 kawannya menuju ke rumah Bapak tersebut. “Nah, ini baru hiburan pagi yang meriah… Kopi Tahi Kerbau…” si Toengaoe tersenyum sendiri.

Ketika sampai di rumah Bapak yang tadi disapanya, si Toengaoe melihat pondok panjang beratap biru. “Mungkin itu tuh, tempat mengumpulkan tahi-tahi tadi” si Toengaoe celingak-celinguk memandangi halaman rumah yang dipenuhi pohon pinang dan pohon duku tersebut.

Biogas Senamat Ulu

Ketika sudah bertemu dan bercerita dengan sang Bapak pemilik pondok biru tersebut sambil menikmati Kopi Tahi Kerbau, si Toengaoe baru tahu kalau yang dimaksud dengan Kopi Tahi Kerbau tersebut adalah Kopi yang dimasak dengan menggunakan gas yang dikeluarkan oleh tumpukan tahi Kerbau yang ditampung dalam sebuah tabung plastik panjang.

Menurut sang Bapak, gas yang digunakan untuk memasak kopi tersebut disebut dengan Biogas. Biogas yang beliau miliki tersebut merupakan Biogas Pertama di Kecamatan Bathin III Ulu dan mungkin juga untuk di Kabupaten Bungo. Biogas ini merupakan aplikasi dari Training Pembuatan Biogas yang diadakan oleh KKI WARSI di Kabupaten Solok Selatan pada awal tahun 2012 lalu yang diikuti oleh salah seorang Pemuda dari Dusun Senamat Ulu yang juga keponakan dari Sang Bapak.

Pondok Biogas

Bagi sang Bapak, feses ternak yang berserakan di sepanjang jalan yang dikumpulkannya satu hingga 2 kilogram setiap pagi tersebut selain untuk mengisi tabung Biogas, juga bisa digunakan untuk pupuk tanaman di kebunnya. Feses yang digunakan biasanya feses yang berasal dari sisa pembuangan Biogas yang sudah tidak berbau lagi dan kering. Sehingga sangat baik dan mudah untuk ditabur disekeliling tanaman dalam kebun.

Setelah menyeruput Kopi Tahi Kerbau yang tinggal sekali tenggak lagi, si Toengaoe beranjak dari rumah tersebut sambil memperhatikan sang Bapak yang berangkat bersama Tahi Kerbau Kering menuju kebunnya di Puncak Senamat.

“Besok pagi, kita minum kopi tahi kerbau lagi ya Pak…..” si Toengaoe berteriak sambil berlari menuju Sungai Batang Senamat yang airnya jernih dan menyegarkan. (Qt)

Hutan Desa di Bungo akan Diresmikan

Leave a comment

From INCL Edisi 12-12b, 30 Maret 2009:

Hutan Desa di Bungo akan Diresmikan

Sumber: Antara, 28 Maret 2009
Jambi

Menteri Kehutanan MS Kaban menurut rencana, Senin (30/3), akan meresmikan Program Hutan Desa pertama di Indonesia yang berlokasi di Desa Lubuk Beringin, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi.

Direktur Eksekutif Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi Jambi Rakhmat Hidayat di Jambi, Sabtu, menjelaskan, Hutan Desa Lubuk Beringin berada di kawasan hutan lindung Bukit Panjang Rantau Bayur seluas 2.356 hektare (ha).

Hutan Desa tersebut akan menjadi proyek percontohan yang akan dikembangkan di sejumlah daerah, terutama yang memiliki kawasan hutan dengan tujuan untuk menjaga keutuhan dan melestarikan hutan.

Oleh karena itu, katanya, peresmian itu selain akan dihadiri Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin juga akan dihadiri Gubernur Bali I Made Mangku Pastika dan Gubernur Sulawesi Selatan serta sejumlah bupati dari Bengkulu.

KKI Warsi merupakan salah satu LSM pendamping/fasilitator dalam program pembentukan Hutan Desa Lubuk Beringin yang telah ditetapkan melalui SK Menhut Nomor: SK.109/Menhut-II/2009. Program hutan desa menekankan pada aspek pengelolaan oleh warga desa, mereka boleh memanfaatkan kayu yang ada dengan sistem tebang pilih dan melakukan penanaman di kawasan hutan desa.

Dalam program hutan desa itu, pengelolaannya ditangani oleh lembaga atau kelompok yang dibentuk berdasarkan peraturan desa yang bertanggungjawab langsung kepada kepala desa, dan setiap tindakan dalam mengelola hutan harus dimusyawarahkan. Hutan Desa merupakan hutan negara yang pengelolaannya dilakukan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, terutama kawasan hutan lindung yang belum dibebani hak.

Rakhmat menjelaskan kondisi hutan di Desa Lubuk Beringin relatif masih utuh dan kalaupun terjadi perambahan itu terjadi beberapa tahun lalu, warga menanaminya dengan pohon karet. Ia juga menjelaskan, program hutan desa juga bisa dilaksanakan karena terkait dengan budaya masyarakat desa setempat yang sejak dulu mempunyai tradisi dan adat istiadat yang kuat untuk menjaga hutan.

“Hutan sudah dianggap sebagai rumah mereka, kalau hutan rusak, kehidupan mereka akan sulit. Kesadaran itu sudah tertanam cukup kuat,” tambahnya. (*)

Older Entries

%d bloggers like this: