Home

Indonesia Siap Ratifikasi Protokol Nagoya

Leave a comment

INDONESIA SIAP RATIFIKASI PROTOKOL NAGOYA

Kompas | Brigitta Isworo Laksmi | Kamis, 11 Oktober 2012 | 09:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia menyatakan siap meratifikasi Protokol Nagoya pada akhir tahun 2012. Hal itu disampaikan delegasi Indonesia pada pertemuan pleno Konferensi Tingkat Tinggi Keanekaragaman Hayati Ke-11 di Hyderabad, India, 8-19 Oktober 2012.

”Yang terpenting adalah operasionalisasi dari ratifikasi. Perlu ada perubahan dalam agenda konservasi Indonesia, terutama dalam kaitan mengadopsi dan melibatkan pengetahuan dan kearifan tradisional dalam konservasi. Juga melindungi hak masyarakat dalam kawasan konservasi,” ujar Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Peradilan Perikanan Riza Damanik yang dihubungi dari Jakarta, Rabu (10/10/2012).

Pada hari yang sama, Damanik melakukan jumpa pers bersama perwakilan masyarakat sipil dari India, Amerika Selatan, dan kelompok negara Afrika.

Pemerintah Indonesia didesak untuk mengakui pengetahuan masyarakat lokal dan masyarakat adat tentang sumber daya genetik dan tanggung jawab yang selama ini mereka tunjukkan. Pemerintah perlu menerapkan persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (free, prior, and informed consent/FPIC).

”Kami menyambut baik rencana pemerintah. Kami ada di sini bersama masyarakat Lamalera yang telah mempraktikkan konservasi dengan cara tradisional sejak abad ke-13. Banyak praktik konservasi tradisional dilakukan di Indonesia, tetapi pemerintah belum menghargai dan mengakui,” katanya.

Indonesia merupakan negara megabiodiversitas keempat di dunia. Peringkat pertama adalah Brasil. Menurut data tahun 2011 dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Indonesia tercatat memiliki 47 ekosistem berbeda, dengan 1.602 spesies burung, 1.112 spesies reptil dan amfibi, 2.800 spesies hewan tak bertulang belakang, serta 1.400 spesies ikan.

Konferensi dihadiri sekitar 14.000 peserta dan 173 para pihak (negara dan organisasi). Sekretaris Eksekutif Konvensi Keanekaragaman Hayati Braulio Ferreira de Souza Dias pada pembukaan konferensi mengingatkan tentang krisis finansial yang dihadapi dunia saat ini. ”Krisis adalah kesempatan terbaik untuk membuat perubahan secara substansial. Dana untuk keanekaragaman hayati jangan dipandang sebagai pembiayaan, tetapi dilihat sebagai investasi yang akan terbayar dengan manfaat signifikan secara lingkungan, sosial, dan ekonomi.”

——————-
Sumber: Kompas

Catatan TBU-S:
PROTOKOL NAGOYA tentang Acces to Genetic Resources and the Fair and Equitable Sharing of Benefits Arising from the Utilization yang disepakati dalam Conference of Parties (COP) Convention on Biological Diversity (CBD) pada 29 Oktober 2010 di Nagoya Jepang.

Raflesia yang Mekar Terancam Punah

Leave a comment

Raflesia yang Mekar Terancam Punah

Sumber : Kompas.com, 3 Juli 2011
Oleh : Yunanto Wiji Utomo dan A. Wisnubrata
Bogor

Bunga Rafflesia rochussenii untuk kali pertama mekar di Kebun Raya Cibodas, Jawa Barat, sejak Jumat (1/7/2011). Bunga yang mekar tersebut memiliki diameter 12 cm dan tinggi sekitar 4 cm. Kepala UPT BKT Kebun Raya Cibodas Dr Didik Widyatmoko mengatakan saat dihubungi hari Minggu (3/7/2011) bahwa, “Bunga Rafflesia rochussennii sebenarnya merupakan spesies asli dan endemik Jawa Barat.”

Didik menjelaskan bahwa spesies ini optimal tumbuh di ketinggian 700-1400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Biasanya, Rafflesia rochussenii hidup di lantai hutan yang lembab dan didominasi vegetasi Fagaceae. Spesies ini dahulu tersebar di Jawa Barat, hingga Garut, Bandung Selatan, dan Palabuhan Ratu. “Diduga, bunga itu saat ini hanya terdapat di kawasan hutan Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Gunung Salak,” ucap Didik.

Didik mengatakan, konversi lahan hutan bisa menjadi solusi mengingat persebaran spesies ini mulai terbatas. “Sekarang upaya konservasi yang serius adalah sesuatu yang mendesak. Kalau tidak, ya nanti bisa punah,” ucap Didik. Langkah konservasi bisa dimulai dengan melestarikan lahan hutan. Menurutnya, program di Gunung Gede dan Pangrango yang sudah ada saat ini bisa dilanjutkan dan ditingkatkan sehingga lebih optimal.

Selain itu, ia mengatakan bahwa Kebun Raya Cibodas merupakan satu langkah untuk konservasi spesies itu. “Kita coba dengan eks situ. Kalau nanti kita berhasil, jika diperlukan, maka kita bisa kembalikan ke alam,” lanjut Didik. Menurut Didik, informasi tentang Rafflesia rochussenii masih sangat minim. Ke depan, perlu penelitian agar kondisi lingkungan optimal diketahui sehingga membantu upaya pelestarian dan budidaya di Cibodas.

Rafflesia rochussenii merupakan kerabat Rafflesia arnoldi yang endemik Sumatera dan Rafflesia patma yang juga tumbuh di Kebun Raya Bogor. Perbedaan Rafflesia rochussenii dengan spesies lain ada pada ukurannya yang lebih kecil.

%d bloggers like this: