Home

KULIAH UMUM KONSERVASI, DISKUSI MENGENAI USAHA-USAHA PELESTARIAN ALAM BAGI PEMUDA DAN MAHASISWA DI SUMATERA BARAT

Leave a comment

KUK_AUT_KCA-LH Rafflesia 2012

KULIAH UMUM KONSERVASI, DISKUSI MENGENAI USAHA-USAHA PELESTARIAN ALAM BAGI PEMUDA DAN MAHASISWA DI SUMATERA BARAT
Padang, 17 November 2012

Dalam upaya memperingati Tahun Baru 1434 Hijriyah dan dalam rangkaian Kegiatan Memperingati Ulang Tahun yang ke-32, KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND sebagai sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di di Fakultas MIPA yang berbasis Ilmu-Ilmu Sains mengadakan Kegiatan Andalas University Treasure dengan Tema Kenali, Manfaatkan dan Lestarikan. Dalam kegiatan ini berbagai acara-acara yang berlandaskan Konservasi Alam telah mengisi rangkaian-rangkaian kegiatan tersebut. Dimulai dari Tiup Lilin Ulang Tahun pada tanggal 28 Oktober 2012, kemudian Bazar di Kampus FMIPA UNAND dengan konsep Outdoor dan Outbound yang berlangsung selama 2 minggu.

Sebagai acara puncaknya, KCA-LH Rafflesia mengadakan Kuliah Umum Konservasi pada hari ini (Sabtu, 17 November 2012) di Gedung E Kampus Unand Limau Manih bagi mahasiswa, pemuda dan masyarakat umum yang diiringi dengan kegiatan lapangan Scientific Runaway. Kegiatan Kuliah Umum Konservasi tersebut menghadirkan Narasumber dari pihak-pihak yang ahli di bidang Konservasi. Sebagai tujuannya, KCA-LH Rafflesia berharap dengan adanya Kuliah Umum ini, berbagai konsep dan kebijakan serta peranan masyarakat termasuk mahasiswa dalam upaya-upaya Konservasi Alam dapat diketahui oleh Mahasiswa dan Pemuda di Sumatera Barat khususnya di Kota Padang.

Sebagai pembuka Kuliah Umum ini, narasumber dari BKSDA Sumbar, Bapak Khairi, menjabarkan Konsep-Konsep Dasar dan Kebijakan-Kebijakan dalam Usaha-Usaha Konservasi Alam di Indonesia. Narasumber berikutnya yaitu KKI WARSI, Bapak Rainal Daus, yang menjabarkan Peranan Masyarakat dalam Upaya-Upaya Konservasi Alam dan Manfaat dari Usaha-Usaha Konservasi tersebut bagi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat dengan konsep Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat. Selanjutnya narasumber dari FFI Indonesia, Bapak Yoan Dinata, menyampaikan Peranan Non-Government Organization (NGO) di Indonesia dalam Konservasi Alam serta jenis-jenis Flora Fauna penting di Sumatera Barat.

Pada sesi siangnya, Kuliah Umum dilanjutkan dengan Diskusi mengenai Keberadaan Kebun Raya Universitas Andalas sebagai salah satu Usaha-Usaha Konservasi Ex-Situ dan penyelamatan Sumber Daya Genetik di Pulau Sumatera yang disampaikan oleh Bapak Prof. Amri Bachtiar dari Kebun Raya Unand. Sebagai penutup dari Kuliah Umum ini, Heru Handika yang menjadi Narasumber dari KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND sendiri menyampaikan Peranan dan Gerakan Mahasiswa dalam Usaha-Usaha Konservasi Alam.

Sebagai tindak lanjut dari Kegiatan ini pada esok hari (Minggu, 18 November 2012), KCA-LH Rafflesia mengadakan Scientific Runaway. Scientific Runaway ini merupakan sebuah kegiatan Pengenalan Kebun Raya Unand bagi masyarakat khususnya Mahasiswa dan telah menjadi kegiatan tahunan sebagai rangkaian Peringatan Ulang Tahun KCA-LH Rafflesia. (327)

——————
Source: Blog KCA-LH Rafflesia FMIPA UNAND

Indonesia Siap Ratifikasi Protokol Nagoya

Leave a comment

INDONESIA SIAP RATIFIKASI PROTOKOL NAGOYA

Kompas | Brigitta Isworo Laksmi | Kamis, 11 Oktober 2012 | 09:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia menyatakan siap meratifikasi Protokol Nagoya pada akhir tahun 2012. Hal itu disampaikan delegasi Indonesia pada pertemuan pleno Konferensi Tingkat Tinggi Keanekaragaman Hayati Ke-11 di Hyderabad, India, 8-19 Oktober 2012.

”Yang terpenting adalah operasionalisasi dari ratifikasi. Perlu ada perubahan dalam agenda konservasi Indonesia, terutama dalam kaitan mengadopsi dan melibatkan pengetahuan dan kearifan tradisional dalam konservasi. Juga melindungi hak masyarakat dalam kawasan konservasi,” ujar Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Peradilan Perikanan Riza Damanik yang dihubungi dari Jakarta, Rabu (10/10/2012).

Pada hari yang sama, Damanik melakukan jumpa pers bersama perwakilan masyarakat sipil dari India, Amerika Selatan, dan kelompok negara Afrika.

Pemerintah Indonesia didesak untuk mengakui pengetahuan masyarakat lokal dan masyarakat adat tentang sumber daya genetik dan tanggung jawab yang selama ini mereka tunjukkan. Pemerintah perlu menerapkan persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (free, prior, and informed consent/FPIC).

”Kami menyambut baik rencana pemerintah. Kami ada di sini bersama masyarakat Lamalera yang telah mempraktikkan konservasi dengan cara tradisional sejak abad ke-13. Banyak praktik konservasi tradisional dilakukan di Indonesia, tetapi pemerintah belum menghargai dan mengakui,” katanya.

Indonesia merupakan negara megabiodiversitas keempat di dunia. Peringkat pertama adalah Brasil. Menurut data tahun 2011 dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Indonesia tercatat memiliki 47 ekosistem berbeda, dengan 1.602 spesies burung, 1.112 spesies reptil dan amfibi, 2.800 spesies hewan tak bertulang belakang, serta 1.400 spesies ikan.

Konferensi dihadiri sekitar 14.000 peserta dan 173 para pihak (negara dan organisasi). Sekretaris Eksekutif Konvensi Keanekaragaman Hayati Braulio Ferreira de Souza Dias pada pembukaan konferensi mengingatkan tentang krisis finansial yang dihadapi dunia saat ini. ”Krisis adalah kesempatan terbaik untuk membuat perubahan secara substansial. Dana untuk keanekaragaman hayati jangan dipandang sebagai pembiayaan, tetapi dilihat sebagai investasi yang akan terbayar dengan manfaat signifikan secara lingkungan, sosial, dan ekonomi.”

——————-
Sumber: Kompas

Catatan TBU-S:
PROTOKOL NAGOYA tentang Acces to Genetic Resources and the Fair and Equitable Sharing of Benefits Arising from the Utilization yang disepakati dalam Conference of Parties (COP) Convention on Biological Diversity (CBD) pada 29 Oktober 2010 di Nagoya Jepang.

Klaim Malaysia Membuat Warga Lestarikan Rafflesia

2 Comments

Klaim Malaysia terhadap bunga Rafflesia arnoldi membangkitkan semangat Kelompok Peduli Puspa Langka Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, untuk melestarikan habitat flora langka itu. “Terus terang kami sakit hati mengetahui dari media bahwa Malaysia juga mengklaim bunga Rafflesia,” kata Ketua Kelompok Peduli Puspa Langka Holidin, Minggu.

Padahal, kata dia, semangat masyarakat sudah berkurang untuk menjaga setiap bunga yang mekar di kawasan Hutan Lindung dan Cagar Alam Taba Penanjung. Namun. dengan adanya klaim tersebut, anggota kelompok kembali bersemangat membersihkan kawasan dua bunga Rafflesia yang mekar di perbatasan Kota Bengkulu-Kepahiang sejak dua hari terakhir.

“Ada dua yang mekar, posisinya 200 meter dari jalan raya. Sebenarnya kami tidak semangat membuka jalan karena medannya curam, tetapi mengingat klaim Malaysia atas Rafflesia, semangat anggota kelompok jadi tinggi,” katanya. Holidin mengatakan satu bunga sedang mekar sempurna dan diperkirakan masih mekar hingga empat hari ke depan.

Bunga yang mekar tersebut berada di kemiringan 65 derajat dengan diameter 80 cm, dan dapat dinikmati pengunjung hingga 12 hari ke depan sebelum membusuk. Sementara itu, satu bunga lainnya masih mulai membuka kuncup dan diperkirakan mekar sempurna enam hari lagi.

Selain dua bunga tersebut, kelompok ini juga menemukan dua calon bunga sebesar bola kaki, dan lima yang sebesar bola kasti. Diperkirakan hingga satu bulan ke depan calon bunga itu akan berbunga secara bergantian.
“Jadi, pengunjung punya banyak kesempatan untuk melihat bunga ini di habitatnya langsung,” katanya.

Selain tujuh calon bunga tersebut, Holidin yang saat ini sedang membersihkan lokasi bunga dan merintis jalan setapak bagi pengunjung mengatakan enam inang bunga Rafflesia juga menunjukkan tanda-tanda calon bunga yang biasa disebut tombol.

Jumlah tombol, kata dia belum bisa dipastikan karena pihaknya belum menghitung. “Kelihatannya banyak calon bunga yang akan muncul karena ada enam inang yang kami temukan dengan banyak tombol, atau benjolan calon bunga,” katanya. Holidin dan timnya telah membuat tanda bagi pengunjung dengan memasang papan di pinggir jalan raya, dan kelompok tersebut juga telah membuka jalan setapak untuk pengunjung yang berniat menikmati flora langka itu.(*)

sumber: Antara, 25 Oktober 2009-Bengkulu; dalam INCL 12-38b

Older Entries

%d bloggers like this: