Home

Rafflesia “kembar siam” di rimba Bengkulu

Leave a comment

Rafflesia “KEMBAR SIAM” DI RIMBA BENGKULU

Antara News | Helti Marini Sipayung | Minggu, 21 Oktober 2012 15:00 WIB

Bengkulu (ANTARA News) – Hujan lebat disertai petir tidak menyurutkan niat sejumlah pengunjung yang ingin memuaskan “dahaga” akan keunikan bunga terbesar di dunia Rafflesia arnoldii, yang mekar di rimba Bengkulu, Sabtu.

Dua bunga rafflesia bak “kembar siam” mekar sempurna di kawasan Cagar Alam Taba Penanjung-lah yang menarik minat sejumlah warga untuk menuruni tebing curam, menjangkau lokasi si merah jingga itu tumbuh dan mekar.

“Ini kejadian langka, kami juga baru kali ini menemukan bunga ini mekar berdempetan, seperti kembar siam, ukurannya juga sama,” kata Aswandi, warga yang menemukan dan menjaga puspa langka itu di lokasi bunga mekar, Sabtu.

Lokasi bunga mekar cukup mudah diketahui sebab Aswandi dan sekelompok masyarakat Desa Taba Teret Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah memasang sejumlah tanda di pinggir jalan lintas Bengkulu-Kepahiang itu.

Tiga spanduk besar sumbangan Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu bertuliskan “rafflesia mekar” dipasang di pinggir jalan sehingga pengunjung yang ingin menikmati keunikan bunga itu dapat mengetahui ada rafflesia mekar.

Menurut Aswandi, dua bunga yang mekar sempurna itu sebenarnya tidak mekar bersamaan, tapi berjarak sekitar dua hari.

“Awalnya bunga sebelah kanan yang terlebih dahulu mekar pada Selasa (16/10), lalu bunga kedua yang ada di sebelahnya juga mekar. Karena ukuran diameter sama, sekitar 80 centimeter sehingga seperti kembar siam,” katanya.

Lokasi bunga mekar yang hanya berjarak 20 meter dari pinggir jalan raya sebenarnya cukup memudahkan pengunjung untuk melihat bunga itu.

Namun, hujan lebat yang mengguyur kawasan Bukit Barisan, termasuk Cagar Alam Taba Penanjung yang berdampingan dengan Hutan Lindung Bukit Daun menjadi tantangan tersendiri untuk mencapai bunga itu.

“Mekarnya di tebing hutan jadi meskipun dekat tapi curam dan jalannya licin, cukup menantang,” kata Supin, warga Kota Bengkulu yang mengaku baru pertama melihat bunga rafflesia di habitatnya.

Selain menyaksikan langsung, kesempatan langka itu dimanfaatkan sejumlah pengunjung untuk mendokumentasikan bunga. Foto diri bersama dua bunga rafflesia menjadi aktivitas utama tiap pengunjung.

Kamera saku dan ponsel menjadi andalan untuk mengabadikan bunga yang menjadi ikon Bengkulu dengan sebutan Bumi Rafflesia.

“Hati-hati terpeleset, kasihan kameranya basah, nanti rusak,” kata Aswandi saat mengawasi pengunjung.

Menggunakan pelindung dari plastik, ia mengawasi aktivitas tiap pengunjung untuk memastikan bunga itu tidak disentuh saat didokumentasikan.

Pria paruh baya itu secara sukarela menjaga bunga itu dengan mendirikan tenda seadanya di pinggir jalan.

Menurut dia, bunga itu sangat sensitif sehingga sentuhan dari pengunjung yang penasaran dapat mempercepat kebusukan.

“Kalau tidak disentuh atau dipegang-pegang bisa bertahan mekar selama satu minggu,” ujarnya.

25 rafflesia
Kawasan hutan cagar alam Taba Penanjung dan Hutan Lindung Bukit Daun di lintasan Jalan Raya Kota Bengkulu-Kepahiang merupakan habitat bunga rafflesia.

Koordinator Komunitas Peduli Puspa Langka (KPPL) Bengkulu Sofian Ramadan mengatakan, sejak Januari hingga Oktober 2012 tercatat 25 bunga rafflesia mekar di hutan Bengkulu.

“Terbanyak di dua lokasi hutan ini yakni cagar alam Taba Penanjung dan Hutan Lindung Bukit Daun,” katanya.

Ia mengatakan empat jenis rafflesia ditemukan tumbuh di hutan Bengkulu yakni Rafflesia arnoldii, Rafflesia gadutensis, Rafflesia hasselti dan Rafflesia bengkuluensis.

Dari empat jenis tersebut, jenis arnoldii yang juga bunga dengan ukuran terbesar di antara seluruh jenis rafflesia yang paling sering ditemukan mekar di hutan Bengkulu

Sepekan sebelumnya, dua bunga rafflesia juga ditemukan oleh kelompok masyarakat di kawasan cagar alam Taba Penanjung dan Hutan Lindung Bukit Daun.

“Dua bunga itu juga mekar bersamaan, tapi di dua lokasi berbeda, ditemukan kelompok masyarakat yang rutin mengawasi bunga langka di dalam kawasan hutan Bengkulu,” katanya.

Bunga rafflesia di Hutan Lindung Bukit Daun, tepatnya berbatasan dengan Desa Tebat Monok Kabupaten Kepahiang ditemukan mekar oleh kelompok masyarakat peduli puspa langka Tebat Monok.

Koordinator Kelompok Peduli Puspa Langka Tebat Monok, Holidin dan saudaranya rutin mendirikan pos penjagaan setiap ditemukan bunga mekar di kawasan hutan yang merupakan lintas Bengkulu-Sumatra Selatan.

“Kami khawatir ada oknum tidak bertanggung jawab yang merusak bunga, jadi selalu ada penjagaan di pos,” katanya.

Kelompok masyarakat tersebut secara sukarela mengawasi bunga langka itu dan hanya menerima sumbangan sukarela dari pengunjung.

Bukan karena materi, tapi pencurian dan perusakan terhadap bunga rafflesia yang menjadi alasan utama mereka untuk melakukan penjagaan.

Puspa ini adalah bunga kebanggaan Bengkulu, dan karena itu pulalah provinsi yang dulunya merupakan bagian dari Sumsel ini dijuluki dengan “Bumi Raflesia”, katanya.
(KR-RNI/H-KWR)

—————-
Source: antaranews.com

Bengkulu punya empat jenis Rafflesia

Leave a comment

Bengkulu punya empat jenis Rafflesia

Sumber : Antara News, 5 November 2011
Bengkulu

Peneliti Rafflesia dari Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu Agus Susatya mengatakan bahwa di Provinsi Bengkulu masih dapat ditemui empat jenis flora langka Rafflesia. “Saat ini masih dapat ditemui empat jenis Rafflesia di hutan Bengkulu, tapi kondisinya terancam dengan aktivitas perambahan hutan,” katanya di Bengkulu, Sabtu. Ia mengatakan hal itu disela-sela aksi simpatik puluhan anggota Komunitas Peduli Puspa Langka Bengkulu di Simpang Lima Kota Bengkulu, memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 5 November.

Empat jenis Rafflesia yang hidup di hutan Bengkulu tersebut yakni Rafflesia arnoldii, Rafflesia gadutensis, Rafflesia hasselti dan Rafflesia bengkuluensis. “Keempat jenis Rafflesia ini masih bisa ditemui di hutan Bengkulu, otomatis kelestariannya sangat tergantung dengan perlindungan terhadap kawasan hutan Bengkulu yang terancam alih fungsi,” kata penemu Rafflesia jenis bengkuluensis ini. Agus mengatakan dalam lima tahun terakhir, flora langka tersebut semakin sulit ditemui di hutan Bengkulu dan Sumatera akibat habitat dan inangnya makin sulit didapat.

Menurutnya, Rafflesia yang mekar di dalam kawasan hutan semakin sulit ditemui seiring maraknya aksi penebangan liar dan perambahan hutan menjadi perkebunan secara liar. “Hutan Lindung Rindu Hati di Kabupaten Kepahiang salah satu habitat Rafflesia semakin rusak dimana hampir 50 persen kawasan sudah ditanami kopi dan tidak ada tindakan konkrit dari pemerintah untuk mengatasi ini,” katanya menjelaskan. Bunga Rafflesia spp., menurut dia, memang tidak mendapat perhatian sebesar fauna langka harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang statusnya juga terancam punah.

“Kalau harimau yang mati itu pasti heboh, tapi kalau habitat Rafflesia spp yang terus menyempit itu tidak ada yang respon,” ujarnya. Dukungan pemerintah terhadap pelestarian dengan mengalokasikan anggaran untuk penelitian flora tersebut juga sangat minim. Sementara negara Filipina dalam lima tahun terakhir sudah berhasil menemukan lima jenis baru Rafflesia spp. dan mengklaim sebagai pusat penyebaran puspa langka itu. Padahal kata dia, dari 25 jenis Rafflesia spp yang ada di dunia, sebanyak 14 jenis berada di Indonesia dan 11 diantaranya berada di Pulau Sumatera.

Penelitian terhadap Rafflesia kata dia juga belum mendapat porsi yang layak di kalangan peneliti. Hal itu terbukti dari jumlah peneliti Rafflesia yang bisa dihitung dengan jari. “Saat ini hanya ada tiga peneliti Raflesia, selain saya, satu dosen di Universitas Riau dan satu orang lagi dosen di IPB,” ujarnya. Agus mengharapkan kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap keberadaan flora terbesar di dunia itu sehingga tetap lestari di Bumi Rafflesia.

catatan:
Penulisan nama ilmiah untuk jenis-jenis yang disebutkan diatas, sudah dibenarkan.

%d bloggers like this: