Home

Spesies Kelinci Langka Kembali Dijumpai di Sumatra

Leave a comment

Spesies Kelinci Langka Kembali Dijumpai di Sumatra

National Geographic Indonesia
Berita / Alam dan Lingkungan
Kamis, 24 Mei 2012, Pukul 22:02 WIB

Kelinci tersebut ditemukan di dua lokasi berbeda, berjarak 790 meter di kawasan Liwa, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Sekelompok peneliti dari University of Delaware berhasil merekam gambar seekor kelinci di pedalaman hutan Sumatra. Bukan kelinci biasa, kelinci yang ditemukan merupakan kelinci belang Sumatra (Nesolagus netscheri), salah satu spesies hewan paling langka di dunia yang sebelumnya baru pernah tertangkap kamera sebanyak tiga kali saja.

Uniknya, para peneliti tidak sengaja menemukan hewan tersebut, karena mereka sebenarnya tengah mencari kucing-kucing liar seperti macan tutul, berukuran menengah dan kecil. Berhubung belum pernah ada studi yang komprehensif terkait kelinci belang Sumatra, Jennifer McCarthy, peneliti dari Department of Entomology and Wildlife Ecology, College of Agriculture and Natural Resources (CANR) menyatakan, selain melanjutkan studi mereka terkait spesies kucing-kucing tersebut, mereka juga akan fokus melakukan penelitian terhadap spesies kelinci ini.

“Ini merupakan data terbanyak yang pernah dikumpulkan terkait kelinci-kelinci ini,” kata McCarthy. “Saat ini yang kami pikirkan adalah bagaimana mencari informasi terkait berapa jumlah mereka dalam satu area dan kami berharap temuan ini bisa menjadi pemicu ke arah sana,” ucapnya.

Dalam studinya, McCarthy menggunakan sepuluh foto kelinci belang Sumatra yang didapat di dua lokasi berbeda berjarak 790 meter di kawasan Liwa, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Setelah mengumpulkan foto-foto, tim peneliti melakukan survei di antara rekan-rekan sesama peneliti yang bekerja di kawasan dilindungi lainnya di Sumatra. Tujuannya untuk mengetahui apakah mereka pernah mendokumentasikan kelinci belang Sumatra untuk mendapatkan gambaran di mana kelinci-kelinci ini tinggal.

Menurut McCarthy, kolaborasi antara berbagai kelompok peneliti spesies hewan sangat dibutuhkan karena jika tidak, mereka akan menyia-nyiakan sebuah temuan yang sangat penting.

Benar saja, McCarthy dan timnya mendapati bahwa para peneliti tidak pernah mencatat spesies tersebut. Namun, terungkap bahwa sejumlah ilmuwan di Taman Nasional Kerinci Seblat, yang terletak di empat wilayah propinsi yaitu Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatra Selatan, baru-baru ini pernah melihat kelinci itu beberapa kali.

Saat ini, McCarthy dan timnya sangat bersemangat untuk mempelajari spesies yang telah terlalu lama diabaikan tersebut. “Kami punya kesempatan bukan hanya untuk menemukan kembali spesies ini, tetapi yang penting adalah agar perhatian kembali diberikan pada spesies kelinci yang sangat langka,” ucapnya.

“Seringkali, spesies seperti kelinci tidak diperhatikan karena sebagian orang tidak tahu bahwa ada spesies kelinci Sumatra. Salah satu bagian dari melakukan pekerjaan lapangan di kawasan terpencil adalah, kita bisa menemukan hal-hal seperti ini, dan itu sangat penting bagi upaya konservasi,” ucap McCarthy. McCarthy dan timnya sendiri mempublikasikan detail temuannya di Oryx, sebuah jurnal internasional terkait kehidupan satwa liar.
(Abiyu Pradipa. Sumber: PhysOrg, Dephut)

source: National Geographic Indonesia

————————
#infoLamaBeritaBaru

Advertisements

Rafflesia dan Masyarakat

Leave a comment

Rafflesia
mungkin hampir semua kita kenal dan tahu dengan si Cantik dari Rimba Belantara ini. Sepertinya sudah menjadi ikon di dalam dunia tumbuh-tumbuhan kalau Rafflesia sudah mulai dibicarakan oleh banyak orang. Namun seperti yang kita tahu, belum terlalu banyak yang tahu bagaimana keadaan Rafflesia saat ini di habitatnya? Dan apakah memang Rafflesia masih dapat ditemukan? Atau apakah populasi Rafflesia masih banyak sebanyak Rimba Belantara kita yang juga masih ada?

Menjelang penutup bulan pertama di tahun 2010 ini, RMT Padang mengadakan diskusi dan sharing dengan masyarakat di Palupuh Kab. Agam. Kawasan Palupuh yang lebih dikenal dengan Cagar Alam Batang Palupuh merupakan sebuah kawasan pelestarian yang sejak tahun 1920-an ditetapkan sebagai Cagar Alam khusus untuk Rafflesia. Hampir mendekati seabad, kawasan ini sudah menjadi kawasan pelestarian khusus untuk Rafflesia. Dalam pengamatan terakhir masih ada ditemukan individu-individu Rafflesia yang tumbuh di dalam kawasan ini, walaupun di sekeliling kawasan terutama yang menghadap ke Koto sudah menjadi Parak.

Dari diskusi dan sharing ini, secara umum masyarakat Palupuh telah merasakan betapa besarnya manfaat Rafflesia bagi mereka. Namun dengan semakin tingginya tekanan terhadap kawasan hutan hujan tropis yang menjadi paru-paru dunia saat ini termasuk kawasan hutan di Palupuh ini, mereka juga merasa khawatir dengan keberlangsungan hidup Rafflesia di habitatnya. Sehingga sangat diperlukan Model-Model Pengelolaan bagi keberlangsungan hidup Rafflesia khususnya di daerah Palupuh ini. Apalagi hingga saat ini belum ada model tersendiri bagi pengelolaan terhadap suatu spesies tumbuhan khususnya untuk Rafflesia. Secara umum, masyarakat di Palupuh yang bersentuhan langsung dengan Rafflesia terus berusaha untuk mengelola kawasan hutan mereka demi menjaga keberadaan Rafflesia di habitatnya.

Catatan:
untuk lebih baiknya Pengelolaan Kawasan Rafflesia ini, Silahkan memberikan masukan-masukan untuk model pengelolaan Rafflesia yang berkelanjutan dan lestari yang tetap memperhatikan penghidupan masyarakat di sekitarnya.

RMT West Sumatra

Leave a comment

logo RMT Padang

Rafflesia Monitoring Team merupakan salah satu kumpulan orang-orang yang peduli pada bunga Rafflesia yang selama ini telah menjadi icon bagi tumbuhan di dunia dengan terungkanya dia sebagai BUNGA PALING BESAR di dunia. Team ini dimulai dan direncanakan oleh sebuah mimpi orang-orang yang ingin belajar dan menikmati keindahan dan kebusukan Bunga yang sebagian orang bilang dia adalah Kembang Bangkai, Bunga Bangkai, Cindawan Ghao, Cindawan Muko Rimau, Cindawan Biriang, Bunga Patma dan masih ada beberapa nama yang masih dalam penelusuran Team.
Team ini memiliki hubungan yang erat dengan Nepenthes Team, karenanya mereka pernah menyebut sebuah nama Threatened and Endemic Plant Specialist Groups yang kemudian dikhususkan dengan menambahkan of Sumatra untuk bisa lebih memfokuskan diri. Selain mengumpulkan informasi tentang Flora yang dikategorikan Terancam dan Endemic, mereka juga mengumpulkan semua informasi tentang Flora yang menurut mereka sudah mendekati Extinct in The Wild.
Dengan support dari beberapa ahli Rafflesia di Dunia, Team ini sedang mencoba mewujudkan mimpi mereka untuk sebuah kompleksitas informasi dari Rafflesia khususnya di Sumatera Tengah bagian Barat.
Kedepannya banyak hal yang mungkin bisa diberikan sebagai dukungan bagi kegiatan ini yang mimpinya kebertahanan hidup Rafflesia di habitat alaminya.

Kami tunggu investasi teman-teman untuk kebertahanan hidup Rafflesia di habitat alaminya baik berupa:
– Donasi Informasi
– Donasi Data
– Donasi Pemikiran
– Donasi Diskusi
– Donasi Ide
– Donasi kebijakan
– Donasi Literatur
– Donasi Dana
– Donasi Lain – Lain yang bermanfaat bagi kegiatan tim ini.

Older Entries

%d bloggers like this: