Home

Rantau Kermas, Negeri di Tengah Taman Nasional

Leave a comment

Kondisi Ruang Desa Rantau Kermas

Rantau Kermas, Negeri di Tengah Taman Nasional

TBUS-S, 04 October 2013

Desa Rantau Kermas merupakan salah satu Desa yang berhasil diakui oleh Balai TNKS sebagai sebuah Desa. Hal ini terbukti pada pertengahan tahun 2000-an, Desa ini telah dienclave oleh BTNKS. Desa ini merupakan salah satu dari 5 Desa yang dihuni oleh Marga Serampas. Keempat Desa lainnya adalah Desa Renah Alai, Desa Lubuk Mentilin, Desa Tanjung Kasri dan Desa Renah Kemumu. Kelima Desa Marga Serampas ini telah menjadi Desa-Desa tertua dalam catatan sejarah kehadiran masyarakatnya khususnya di wilayah sepanjang Bukit Barisan. Menurut masyarakat, ninik moyang mereka berasal dari Minangkabau. Sehingga secara adat, mereka memiliki kesamaan dengan adat Minangkabau dimana dalam garis keturunan berdasarkan garis keturunan Ibu (matrilinial). Kesamaan lainnya antara lain adalah penggunaan kata Mamak – Tengganai. Begitu juga dalam adat perkawinan.

Berdasarkan cerita para orang tua-tua yang masih hidup di Desa ini, pada awalnya Desa mereka berada di Desa Tanjung Kasri. Dari Tanjung Kasri mereka menempati wilayah Desa sekarang. Namun pada tahun 1974 terjadi Banjir Bandang yang mengharuskan mereka memindahkan pusat pemukiman ke arah Renah Alai. Setelah lama dari bencana tersebut, beberapa orang kembali menghuni wilayah Rantau Kermas yang menjadi muara dari Sungai Kermas dengan Batang Langkup. Sebagian lainnya tetap menghuni Desa Renah Alai dan sebagian lainnya balik arah dan menghuni wilayah Lubuk Mentilin yang berada di hilir Desa Rantau Kermas di tepi Batang Langkup. Sejak itu berkembanglah masyarakat Desa-Desa tersebut dan saat ini telah menjadi wilayah administrasi sendiri.

Berhubungan dengan Batang Langkup, sungai ini berhulu di wilayah Marga Sungai Tenang di sekitar Desa Muaro Madras dan juga di sekitar Danau Depati Empat yang masuk ke dalam wilayah Desa Rantau Kermas ini. Danau ini berada di dalam kawasan TNKS dan menjadi salah satu Danau yang menarik secara ekologis dan geologis di sepanjang Bukit Barisan. Batang Langkup ini mengalir melewati Desa-Desa Marga Serampas kecuali Renah Alai yang memiliki Sungai Mengkeruh yang berhulu di Gunung Masurai dan bermuara di Sungai ini tepat di depan pemukiman masyarakat Desa Rantau Kermas. Batang Langkup ini selanjutnya membelah Bukit Barisan dan terus mengalir ke arah barat Pulau Sumatra menuju Samudera Hindia melalui Sungai Air Dikit di wilayah Muko-Muko Kab. Bengkulu Utara. Wilayah muaro Batang Langkup dengan Sungai Air Dikit ini merupakan wilayah penting bagi Harimau, Gajah dan Badak. Ketiga fauna ikon ini telah menjadikan wilayah ini sebagai perlintasan mereka dari wilayah Barat Bukit Barisan menuju bagian Timurnya.

Di dalam wilayah Marga Serampas terdapat 4 Gunung yang berada di bagian Timur Laut Desa-Desanya. Gunung-Gunung tersebut dari Selatan adalah 1) Gunung Masurai yang menjadi Gunung tertinggi di wilayah ini dan memiliki Danau Kumbang dan Danau ??? di wilayah Puncaknya; 2) Gunung Nilo yang berada di bagian timur wilayah Serampas; 3) Gunung Sumbing yang merupakan Gunung Berapi dan berada jauh ditengah-tengah belantara Sumatra yang memiliki sumber-sumber air panas (Grao) di kakinya termasuk Grao yang berada di Sungai Sipurak yang lebih dikenal dalam wilayah TNKS dengan nama Sipurak Hook; 4) Gunung Garakah yang berada di dekat perbatasan antara wilayah Kab. Merangin dengan Kab. Kerinci dimana dikakinya juga ditemukan banyak Grao.

Yang menarik dari Desa ini adalah kekuatan masyarakat adatnya dalam menerapkan aturan-aturan Adat Tempo Doeloe yang masih dipertahankan. Bahkan beberapa aturan-aturan Adat tersebut disesuaikan dengan perkembangan zaman yang ada. Hampir semua pola dan cara kehidupan sosial yang dirasakan memiliki dampak negatif bagi orang banyak, ditetapkan sebagai aturan Adat. Beberapa aturan Adat tersebut antara lain:
– Bagi Laki-Laki yang berada di sekitar Desa yang tidak mengikuti Shalat Jum’at dikenakan Sanksi Adat.
– Warga yang tidak memiliki Tanaman Kopi juga dikenakan Sanksi Adat dan diharuskan menanam Kopi di Kebunnya.
– Warga yang sudah berkeluarga dan belum memiliki rumah juga dapat dikenakan Sanksi Adat dan diharuskan membangun rumah dalam waktu tertentu.
Selain ketiga aturan tersebut, masih ada beberapa aturan lagi yang masih diterapkan. Semua aturan tersebut berupa Aturan Tertulis yang disepakati oleh Para Tetua Adat dan Pemerintahan Desa.

Kopi Luwak sebagai salah satu produk dari tanaman Kopi yang selalu dikonsumsi oleh masyarakat Rantau Kermas

Sebagai Desa yang dikelilingi oleh Taman Nasional, Desa ini pada masa Program ICDP-TNKS (1997-2002) juga menyepakati adanya Hutan Adat. Hutan Adat ini berada di kiri kanan pemukiman yang dibelah oleh Batang Langkup. Di wilayah inilah masyarakat Desa mendapatkan Kayu sebagai bahan bangunan yang pemanenannya juga diatur dengan aturan Adat. Dengan adanya kesepakatan wilayah sebagai Hutan Adat dan aturan Adat yang mengaturnya, hingga saat ini wilayah Taman Nasional di sekitar Desa ini boleh dikatakan cukup terjaga dari gangguan para Pembalak. Walaupun demikian ancaman dari Para Perambah dari Luar tetap ada baik untuk Taman Nasional maupun untuk kawasan berhutan yang masih berada di dalam wilayah Desa. Untuk mengatasi Perambah dari Luar tersebut, secara Marga, masyarakat Marga Serampas yang di dalamnya ada masyarakat Rantau Kermas sudah menyepakati untuk menolak kedatangan masyarakat dari Luar untuk membuka lahan bagi kebun di dalam wilayah mereka. Kesepakatan ini juga dituangkan dalam bentuk aturan Adat. (Qt)

Hutan Tersisa Penyangga TNKS

Leave a comment

Hutan Tersisa Penyangga TNKS
Jumat, 07 September 2012 11:04
Metro Jambi

Melihat ke Ruangan Bujang Raba
SAAT ini kawasan hutan tersisa di Jambi hanya bisa ditemukan dalam spot-spot tertentu. Alih fungsi hutan yang marak dilakukan dari dekade 1970-an hingga sekarang sudah mencabik-cabik hutan Jambi. Di antara kawasan hutan yang masih tersisa dan patut untuk dipertahankan adalah kawasan Ekosistem Bukit Panjang Rantau Bayur (Bujang Raba).

Kawasan hutan di barat Kabupaten Bungo ini merupakan kawasan bentang alam dengan fungsi kawasan dan tipe hutan yang kompleks, sekaligus sebagai penyangga Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). “Kawasan ekosistem Bujang Raba ini, mencontohkan berbagai model pengelolaan hutan yang membentuk satu kesatuan kawasan dan berada di hulu DAS Bungo-Tebo. Dengan tipe hutannya meliputi hutan dataran rendah hingga hutan pegunungan bawah,”sebut Rudi Syaf Manager Komunikasi KKI Warsi.

Disebutkannya, pengelolaan Ekosistem Bujang Raba seluas 109 ribu hektare (ha) dilakukan secara terpisah-pisah dan tidak saling berkaitan berdasarkan fungsi masing-masing kawasan. Yaitu meliputi taman nasional, hutan desa, hutan adat, hutan tanaman industri, perkebunan dan kebun karet campur. “Padahal kawasan ini berada dalam satu kesatuan ekosistem sehingga perlu adanya pengelolaan yang saling mendukung untuk menyelamatkan kawasan hutan tersisa di Provinsi Jambi,”sebutnya.
Sehingga lanjut Rudi, Ekosistem Bujang Raba ini dapat dipertahankan keberadaannya sebagai kawasan hutan tersisa dalam berbagai model pengelolaan yang lestari dan berkelanjutan, dan memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat serta dapat mengurangi berbagai bencana ekologis yang berdampak dari hulu ke hilir.

Hal ini penting dilakukan mengingat saat ini ekosistem Bujang Raba masih terbagi ke dalam sejumlah fungsi, hutan lindung Bukit panjang Rantau Bayur seluas 13.529, 40 ha, yang dikukuhkan dengan SK Menhut No. 739/Menhut-II/2009 tanggal 19 Oktober 2009, kawasan ini dikelola oleh masyarakat lima desa sekitar dengan pola Hutan Desa. Kemudian di ekosistem Bujang raba ini, juga terdapat hutan produksi yang hak kelolanya dipegang oleh PT. Malaka Agro Perkasa melalui SK Menteri Kehutanan No. 570/Menhut-II/2009 dengan luas ± 24.485 Ha dan PT. Mugitriman Internasional melalui SK Menteri Kehutanan No. 419/Menhut-II/2009 dengan luas ± 37.500 Ha dalam bentuk Hutan Tanaman Industri (HTI).

Sementara itu, kawasan HP yang berbatasan langsung dengan TNKS yang berada di bagian barat, merupakan kawasan ex-HPH PT Rimba Karya Indah (RKI) yang menarik secara ekologis dan konservasi. Kawasan ini pernah direkomendasikan oleh Program ICDP-TNKS (2002) menjadi salah satu kawasan repatriasi (mengembalikan kawasan) TNKS dengan sebutan kawasan RKI finger. Di Bagian lainnya dalam ekosistem ini, Untuk wilayah APL-nya juga terdapat izin PT Sawit Harum Makmur (SHM) dengan luas ± 16.500 Ha melalui SK Bupati Bungo No. 710/Adm SDA Tahun 2009 yang berada di wilayah Kecamatan Rantau Pandan dan Kecamatan Bathin III Ulu yang berbatasan dengan kawasan Hutan Desa. Selain itu juga terdapat izin PT. Citra Sawit Harum (CSH) dengan luas ± 10.500 Ha melalui SK Bupati Bungo No. 282/Perek Tahun 2007 di Kecamatan Pelepat dan PT Prima Mas Lestari (PML) melalui SK Bupati Bungo No. 255/Tapem/2008 di Kecamatan Pelepat.

Juga dikawasan areal penggunaan lain (APL), masyarakat setempat memanfaatkan kawasan ini dengan menjadikannya sebagai kebun karet campur (agroforest). Agroforest dalam kekayaan biodiversitynya hampir sama dengan hutan. “Melihat beragamnya pemanfaatan dan keberadaan kawasan yang berada di wilayah hulu ini, perlu adanya satu kesatuan sistem pengelolaan yang saling mendukung, sehingga keberadaan eksosistem Bujang Raba dapat dipertahankan secara lestari dan berkelanjutan,”sebutnya. (rls/***)

source: Metro Jambi

——————————————
#kabaKawasan in another news

%d bloggers like this: