Home

Pengetahuan Pengobatan Lokal Disurvei

Leave a comment

PENGETAHUAN PENGOBATAN LOKAL DISURVEI

Kompas | Nawa Tunggal | Selasa, 16 Oktober 2012 | 17:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengetahuan lokal etnomedisin, yakni pengobatan tradisional berbasis komunitas yang tersebar pada 1.158 etnis, disurvei secara nasional. Tujuannya untuk memperoleh data tumbuhan obat, ramuan jamu, dan kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan sehari-hari.

”Data etnomedisin yang ada saat ini sedikit dan berserakan di sejumlah lembaga riset. Saya merisaukan, negara lain yang justru memanfaatkan untuk kepentingan industri mereka,” kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dalam penandatanganan nota kesepahaman Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dengan 21 rektor perguruan tinggi untuk riset khusus eksplorasi pengetahuan lokal etnomedisin berbasis komunitas, Senin (15/10/2012), di Jakarta.

Nafsiah belum menetapkan target penyelesaian Survei Nasional Eksplorasi Pengetahuan Lokal Etnofarmakologi dan Tumbuhan Obat itu. ”Ada ribuan etnomedisin yang belum didata, mungkin perlu 10 tahun untuk mendata,” ujarnya.

Rektor Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Syamsul Rizal dalam sambutan mewakili rektor lain menyampaikan, Menkes harus menetapkan target dan pembagian bidang yang diriset setiap perguruan tinggi. Komitmen bersama harus diwujudkan, terutama untuk menurunkan impor bahan baku obat, yang bisa diatasi dengan kegiatan riset dari tanaman obat yang ada.

”Ginseng dari Korea bisa berada di seluruh dunia. Mengapa Indonesia dengan ribuan tanaman obat tidak bisa menghasilkan produk yang bisa seperti ginseng Korea,” kata Syamsul.

Nafsiah mengatakan, pemanfaatan etnomedisin sejalan dengan upaya promotif dan preventif sebagai paradigma sehat. Berdasarkan sensus tahun 2007, sebanyak 28,15 persen penduduk mengeluh sakit dalam sebulan.

”Penduduk yang sehat harus dijaga agar tidak menjadi sakit dan tetap produktif. Upaya preventif bisa dengan mengonsumsi jamu,” ujar Nafsiah.

Tantangan dihadapi dalam menjalankan survei nasional etnomedisin, antara lain pengalihan fungsi hutan sehingga banyak tanaman obat punah.

—————————
Sumber: Kompas.com

Raflesia yang Mekar Terancam Punah

Leave a comment

Raflesia yang Mekar Terancam Punah

Sumber : Kompas.com, 3 Juli 2011
Oleh : Yunanto Wiji Utomo dan A. Wisnubrata
Bogor

Bunga Rafflesia rochussenii untuk kali pertama mekar di Kebun Raya Cibodas, Jawa Barat, sejak Jumat (1/7/2011). Bunga yang mekar tersebut memiliki diameter 12 cm dan tinggi sekitar 4 cm. Kepala UPT BKT Kebun Raya Cibodas Dr Didik Widyatmoko mengatakan saat dihubungi hari Minggu (3/7/2011) bahwa, “Bunga Rafflesia rochussennii sebenarnya merupakan spesies asli dan endemik Jawa Barat.”

Didik menjelaskan bahwa spesies ini optimal tumbuh di ketinggian 700-1400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Biasanya, Rafflesia rochussenii hidup di lantai hutan yang lembab dan didominasi vegetasi Fagaceae. Spesies ini dahulu tersebar di Jawa Barat, hingga Garut, Bandung Selatan, dan Palabuhan Ratu. “Diduga, bunga itu saat ini hanya terdapat di kawasan hutan Gunung Gede, Gunung Pangrango, dan Gunung Salak,” ucap Didik.

Didik mengatakan, konversi lahan hutan bisa menjadi solusi mengingat persebaran spesies ini mulai terbatas. “Sekarang upaya konservasi yang serius adalah sesuatu yang mendesak. Kalau tidak, ya nanti bisa punah,” ucap Didik. Langkah konservasi bisa dimulai dengan melestarikan lahan hutan. Menurutnya, program di Gunung Gede dan Pangrango yang sudah ada saat ini bisa dilanjutkan dan ditingkatkan sehingga lebih optimal.

Selain itu, ia mengatakan bahwa Kebun Raya Cibodas merupakan satu langkah untuk konservasi spesies itu. “Kita coba dengan eks situ. Kalau nanti kita berhasil, jika diperlukan, maka kita bisa kembalikan ke alam,” lanjut Didik. Menurut Didik, informasi tentang Rafflesia rochussenii masih sangat minim. Ke depan, perlu penelitian agar kondisi lingkungan optimal diketahui sehingga membantu upaya pelestarian dan budidaya di Cibodas.

Rafflesia rochussenii merupakan kerabat Rafflesia arnoldi yang endemik Sumatera dan Rafflesia patma yang juga tumbuh di Kebun Raya Bogor. Perbedaan Rafflesia rochussenii dengan spesies lain ada pada ukurannya yang lebih kecil.

%d bloggers like this: