Home

Minum Pagi Dengan Adonan Feses Ternak

Leave a comment

Api Biogas
Si Biru, hasil pembakaran Biogas

Minum Pagi Dengan Adonan Feses Ternak

TBU-S, February 2013

Pada kunjungan di awal tahun 2012, udara sejuk pada saat fajar menyingsing di Dusun Senamat Ulu yang diwarnai dengan jeritan Ungko (Hylobates agilis dan sahutan Siamang (Symphalangus syndactylus selalu terlihat deretan ternak peliharaan masyarakat berkeliling di sepanjang jalan. Ternak tersebut mulai bergerak mencari penghidupannya di kawasan semak belukar dan padang rumput yang berada di sekitar Dusun. Sebagai hadiah pagi bagi para pengendara kendaraan dan pejalan kaki yang secara umum merupakan para petani karet adalah Feses Ternak yang bergelimpangan disekitar Dusun.

Menjelang akhir tahun 2012, Si Toengaoe merasakan suatu keanehan pada pagi hari pertama dia berkunjung kembali ke Dusun Senamat Ulu ini. Suasana pagi tetap cerah dengan semua kenikmatan yang temukan sejak pertama kali dia datang ke Dusun ini hingga awal tahun 2012 yang lalu masih dirasakannya. Namun di jalanan yang berada di depan rumah tempat dia bersama kawan-kawannya menetap, di pagi ini dia tidak melihat lagi gunung-gunung kecil berasap berwarna coklat kehijauan bertebaran di jalan yang merupakan jalan utama menuju Pemandian Galagah Buto tersebut.

“Pagi Bang… kemana nih pagi ini?” si Toengaoe bertanya pada seorang Bapak yang mengendarai motor menuju ke arah Galagah Buto. Dia melihat sang Bapak tampak membawa ember yang berisi cairan di motor tersebut.

“Biasa… Membersihkan ranjau..” begitu sang Bapak berteriak sambil terus menggas motornya lambat-lambat.

Si Tongaoe semakin penasaran dengan ucapan sang Bapak. “Ranjau… Wah, jangan-jangan si Bapak itu yang mengangkat gunung-gunung kecil berasap yang dulu bergelimpangan seenaknya” si Toengaoe hanya bisa bergumam sambil terkagum-kagum.

“Eh Toengaoe, pagi ini klo mau minum kopi tahi kerbau, pergi tuh ke rumah Bapak yang barusan lewat. Lebih nikmat dari pada kopi LPG” Ibu Pemilik Rumah itu menyadarkan kebingungan si Tongaoe.

Sang Ibu menceritakan kalau dalam 6 (enam) bulan terakhir, Bapak yang barusan lewat tersebut mulai mengumpulkan tahi kerbau dan tahi sapi yang berserakan di dalam Dusun untuk mengisi tabung Biogas yang ada di belakang rumahnya.

Si Toengaoe langsung berangkat bersama 2 kawannya menuju ke rumah Bapak tersebut. “Nah, ini baru hiburan pagi yang meriah… Kopi Tahi Kerbau…” si Toengaoe tersenyum sendiri.

Ketika sampai di rumah Bapak yang tadi disapanya, si Toengaoe melihat pondok panjang beratap biru. “Mungkin itu tuh, tempat mengumpulkan tahi-tahi tadi” si Toengaoe celingak-celinguk memandangi halaman rumah yang dipenuhi pohon pinang dan pohon duku tersebut.

Biogas Senamat Ulu

Ketika sudah bertemu dan bercerita dengan sang Bapak pemilik pondok biru tersebut sambil menikmati Kopi Tahi Kerbau, si Toengaoe baru tahu kalau yang dimaksud dengan Kopi Tahi Kerbau tersebut adalah Kopi yang dimasak dengan menggunakan gas yang dikeluarkan oleh tumpukan tahi Kerbau yang ditampung dalam sebuah tabung plastik panjang.

Menurut sang Bapak, gas yang digunakan untuk memasak kopi tersebut disebut dengan Biogas. Biogas yang beliau miliki tersebut merupakan Biogas Pertama di Kecamatan Bathin III Ulu dan mungkin juga untuk di Kabupaten Bungo. Biogas ini merupakan aplikasi dari Training Pembuatan Biogas yang diadakan oleh KKI WARSI di Kabupaten Solok Selatan pada awal tahun 2012 lalu yang diikuti oleh salah seorang Pemuda dari Dusun Senamat Ulu yang juga keponakan dari Sang Bapak.

Pondok Biogas

Bagi sang Bapak, feses ternak yang berserakan di sepanjang jalan yang dikumpulkannya satu hingga 2 kilogram setiap pagi tersebut selain untuk mengisi tabung Biogas, juga bisa digunakan untuk pupuk tanaman di kebunnya. Feses yang digunakan biasanya feses yang berasal dari sisa pembuangan Biogas yang sudah tidak berbau lagi dan kering. Sehingga sangat baik dan mudah untuk ditabur disekeliling tanaman dalam kebun.

Setelah menyeruput Kopi Tahi Kerbau yang tinggal sekali tenggak lagi, si Toengaoe beranjak dari rumah tersebut sambil memperhatikan sang Bapak yang berangkat bersama Tahi Kerbau Kering menuju kebunnya di Puncak Senamat.

“Besok pagi, kita minum kopi tahi kerbau lagi ya Pak…..” si Toengaoe berteriak sambil berlari menuju Sungai Batang Senamat yang airnya jernih dan menyegarkan. (Qt)

Advertisements

Keuntungan Berkebun Karet Melar

Leave a comment

Produksi Karet
Produksi Karet Bersih oleh Masyarakat Lubuk Beringin yang dipasarkan langsung ke Pabrik Bridgestone. (Photo by naturasumatrana)

Keuntungan Berkebun Karet Melar

AWKMI, 2012

Kisah petani terlilit utang pada tengkulak kini tak berlaku di Desa Lubuk Beringin, Muara Bungo (Jambi). Komoditas karetnya, kini berhasil menembus pasar untuk pabrik ban Bridgestone, di Medan (Sumatra Utara). “Setiap 15 bulan kelompok petani yang beranggotakan 80 orang bisa menghasilkan Rp 4,7 miliar,” ujar Bakian, seorang petani karet yang ikut menghadiri Kongres Asosiasi Wirausaha Kehutanan Masyarakat Indonesia (AWKMI), di Semarang 21-23 Juni 2012.
Maraknya produski karet alam di Lubuk Beringin berkat upaya //agro forestry// yang berkembang di situ sejak beberapa dasawarsa lalu. Petani mengembangkan karet dan juga berbagai tanaman lain di lahan hutan desa. Kelompok yang mengelola hutan desa menamakan dirinya “Agro Pores”. Untuk memasuki pasar, Bakian dan kelompoknya mengikuti harga pasar lelang karet, tdak tergantung lagi pada tengkulak.

“Selisih harga tengkulak mencapai Rp 5 ribu per kilo. Dalam satu musim, jika kami memanen 12 ton saja, untung yang diraup dari perbedaan harga pasar dengan tengkulak sebesar Rp 60 juta,” terang Bakian. Bertani hutan secara berkelanjutan, menjadikan masyarakat yang tinggal sekitar 65 kilometer dari ibukota Kabupaten Muara Bungo, bisa meraup untung sekaligus menikmati jasa lingkungan. Air, Udara serta energi listrik dari kincir air, misalnya. Kala saat menyadap karet sedang libur, beragam hasil hutan bukan kayu menjadi tumpuan penghasilan masyarakat. Seperti durian, petai, rempah untuk bumbu dapur dan obat-obatan. Hasilnya pun tak kalah menggiurkan, terlebih untuk komoditas jernang, sejenis rotan yang diambil lapisan lilinnya. “Harga jernang mencapai Rp 800 ribu per kilo,” terangnya.

Mahendra Taher, Direktur Eksekutif SSS-Pundi Sumatra, sebuah lembaga pendamping masyarakat, mengatakan, karet di Indonesia, 80 persen berasal dari kebun rakyat. Ia juga menambahkan, hasil karet rakyat secara nasional, berkontribusi besar untuk produk pomestik bruto (PDB), mencapai Rp 6 triliun per tahun. Selain itu, kebun karet rakyat juga menyerap tenaga kerja tak sedikit, setidaknya ada 1,6 juta tenaga kerja di sektor perkebunan karet nasional. Maka perputaran uang dari karet akan berada di masyarakat kecil, bukan perusahaan atau pemilik modal.

Source: INCL edisi 15-25b, 2 Juli 2012 (PILI-Green Network)

—————————————
“Info Lama Berita Baru”
Use Paperless to Save Our Remaining Forest

%d bloggers like this: